Rabu, 17 Juni 2026

5 Fakta Menarik Hujan Meteor Lyrids April 2026, Fenomena Antariksa yang Sudah Pernah Muncul Sejak 687 SM, Kini Bisa Dilihat dengan Jelas di Indonesia!

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Rabu, 22 April 2026 | 18:15 WIB
Potret hujan meteor lyrids yang mencapai puncaknya pada 22-23 April 2026 dan dapat diamati dengan jelas di langit Indonesia (Instagram/caity.dinsdale)
Potret hujan meteor lyrids yang mencapai puncaknya pada 22-23 April 2026 dan dapat diamati dengan jelas di langit Indonesia (Instagram/caity.dinsdale)

SketsaNusantara.id - Fenomena unik kembali menghiasi langit Indonesia pada bulan April 2026. Salah satunya, hujan meteor Lyrids yang mencuri perhatian publik dan ramai diperbincangkan di media sosial.

Tak hanya indah, hujan meteor Lyrids juga menyimpan banyak fakta menarik yang membuatnya berbeda dari fenomena antariksa lainnya.

Hujan meteor ini menjadi salah satu momen langka yang selalu menarik perhatian para pengamat astronomi tiap tahunnya karena disebut-sebut sebagai satu hujan meteor tertua yang pernah tercatat dalam sejarah.

Baca Juga: Geger! Cahaya Terang Diduga Meteor Jatuh di Cirebon Disertai Suara Dentuman Keras, Terdengar hingga Brebes dan Bandung

Berikut 5 fakta menarik yang bisa diketahui dari hujan meteor lyrids, sebagaimana dihimpun SketsaNusantara.id dari laman resmi NASA dan berbagai sumber.

1. Sudah Teramati Lebih dari 2.700 Tahun Lalu

Lyrids meteor shower merupakan salah satu hujan meteor tertua yang pernah dicatat dalam sejarah manusia. Catatan paling awal berasal dari tahun 687 SM (sebelum masehi) oleh astronom di Tiongkok kuno.

Artinya, fenomena ini telah diamati manusia selama lebih dari 2.700 tahun, menjadikannya salah satu peristiwa langit dengan sejarah pengamatan terpanjang di dunia.

2. Dinamakan dari Rasi Bintang Lyra

Hujan meteor ini dikenal paling terang dan diberi nama "Lyrids" yang diambil dari Lyra, yaitu rasi bintang tempat titik radian kemunculan meteor.

Baca Juga: Fakta Menarik Bulan Purnama Pertama di Tahun 2026, Kenapa Disebut Wolf Moon?

Dalam astronomi, hujan meteor dinamai berdasarkan titik radian, yaitu titik di langit tempat meteor-meteor tersebut seolah-olah muncul atau memancar.

Lantaran titik pancarnya ini berada di dekat bintang Vega dalam rasi Lyra, maka fenomena ini disebut hujan meteor Lyrids.

Para pengamat yang ingin melihat fenomena ini biasanya mengarahkan pandangan ke langit timur laut dan cari bintang terang Vega karena dari titik inilah meteor akan tampak "memancar".

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: nasa.gov

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X