SketsaNusantara.id - Keputusan Hotman Paris Hutapea menjadi kuasa hukum Febrie Adriansyah terus menjadi perbincangan publik, setelah mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) itu ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).
Di tengah ramainya kritik dan beragam respons dari masyarakat, konten kreator Balqis Humaira turut menyampaikan pandangannya.
Melalui unggahan di media sosial, Balqis mengaku kecewa dengan keputusan Hotman Paris yang turut membela tersangka kasus dugaan korupsi.
"Iya gue paham. Bahkan bajingan sekalipun juga punya hak dibela karena di mata hukum semua sama. Tapi, kenapa harus Hotman?" tulis Balqis melalui akun Instagram @ootd_balqishumaira77 sebagaimana dikutip SketsaNusantara.id pada hari Sabtu, 18 Juli 2026.
Pernyataan tersebut kemudian ramai diperbincangkan karena menyinggung sosok Hotman Paris yang selama ini dikenal aktif memberikan bantuan hukum kepada masyarakat kecil melalui program Hotman 911.
Dalam unggahannya, Balqis mengungkap alasan mengapa banyak yang mengkritik keputusan Hotman Paris. Ia tidak mempersoalkan aspek hukum dari keputusan sang advokat, karena secara konstitusi, setiap orang memang memiliki hak memperoleh pembelaan hukum dan pengacara berhak menerima pendampingan terhadap kliennya.
Namun, ia menilai polemik yang muncul bukan semata-mata soal aturan hukum, melainkan mengenai ekspektasi publik terhadap sosok yang selama ini dikenal membela kepentingan masyarakat.
Balqis menyebut Hotman Paris selama bertahun-tahun membangun citra sebagai figur yang berpihak kepada rakyat kecil, sehingga banyak masyarakat menaruh harapan besar kepadanya.
"Beberapa hari ini, linimasa kita lagi dipenuhi sama rasa kecewa kolektif. Jutaan orang tiba-tiba patah hati melihat seorang Hotman Paris, sosok yang selama ini dipuja-puja bagai dewa penolong rakyat kecil, lalu tiba-tiba berdiri gagah di ruang sidang, membela pihak yang sedang terjerat pusaran mega korupsi," tulisnya.
"Wajar jika rakyat seolah-olah marah besar karena selama bertahun-tahun figur ini membangun branding sebagai pahlawan kemanusiaan. Setiap hari selalu ada berita dan selalu ada yang berteriak soal keadilan untuk rakyat kecil," ujarnya.
Dalam unggahannya, Balqis menggambarkan hal tersebut sebagai sebuah "kontrak moral" yang terbentuk antara figur publik dengan masyarakat.
Ketika sosok yang selama ini identik dengan perjuangan mencari keadilan bagi masyarakat kecil, lalu kemudian mendampingi seorang tersangka kasus korupsi besar, sebagian publik merasa mengalami benturan antara harapan moral dan realitas profesi seorang advokat.