SketsaNusantara.id - Kreator konten dan pendiri Malaka Project, Ferry Irwandi, melontarkan kritik tajam kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, terkait isu pemadaman listrik bergilir yang belakangan dikeluhkan masyarakat di sejumlah wilayah Pulau Jawa.
Kritik tersebut disampaikan Ferry melalui unggahan di akun Instagram pribadinya saat menyoroti ironi yang terjadi di Indonesia.
Pasalnya, negara yang dikenal sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di dunia, tetapi justru menghadapi persoalan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik dalam negeri.
Melalui unggahannya, Ferry menggunakan perumpamaan "ayam mati di lumbung padi" untuk menggambarkan situasi saat ini yang kian memprihatinkan.
"Salah satu negara penghasil batu bara terbesar di dunia bisa kekurangan batu bara untuk memasok kebutuhan listrik masyarakatnya," tulis Ferry dikutip SketsaNusantara.id dari unggahan akun Instagram @irwandiferry, pada hari Minggu, 21 Juni 2026.
Pernyataan tersebut muncul di tengah ramainya keluhan masyarakat mengenai pemadaman listrik bergilir yang disebut-sebut berkaitan dengan menipisnya pasokan batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik nasional.
Ferry kemudian menyoroti penjelasan yang disampaikan Kementerian ESDM mengenai akar persoalan yang menjadi penyebab pasokan batu bara dalam negeri makin menipis.
Dalam unggahan tersebut, Ferry menyinggung penjelasan pemerintah bahwa perusahaan-perusahaan tambang semakin enggan memasok batu bara untuk kebutuhan dalam negeri melalui skema Domestic Market Obligation (DMO).
Program tersebut mewajibkan perusahaan tambang menjual sebagian produksinya ke pasar domestik dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah sebesar USD 70 per ton. Di sisi lain, harga batu bara di pasar internasional dinilai jauh lebih menguntungkan bagi perusahaan.
Kesenjangan harga tersebut diperparah oleh meningkatnya biaya produksi dan melonjaknya stripping ratio atau volume lapisan tanah penutup yang harus disingkirkan untuk mengakses batu bara. Kondisi itu membuat margin keuntungan perusahaan semakin tertekan.
Akibatnya, pasokan batu bara berkalori menengah yang banyak dibutuhkan pembangkit listrik menjadi terganggu. Padahal jenis batu bara tersebut memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
Situasi ini menghadirkan paradoks yang mencolok, apalagi Indonesia selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu produsen dan eksportir batu bara terbesar di dunia.