news

Muda, Berdaya, dan Mandiri: Kisah Nur Sihabudin Membangun Kerajaan Bebek di Pelosok Jombang ‎

Kamis, 14 Mei 2026 | 19:55 WIB
Sajad Mukafi (50) usai memberi pakan bebek pedaging di kandang milik Nur Sihabudin di Dusun Bungkil, Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jatim. (SketsaNusantara.id/As ad Choirudin)

SketsaNusantara.id - Suara riuh ribuan bebek di sudut Dusun Bungkil, Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jatim, menjadi musik harian bagi Nur Sihabudin Achmad. Pemuda yang akrab disapa Didin ini bukanlah sosok pemuda biasa yang memilih merantau ke kota besar.

‎Di usianya yang baru menginjak 26 tahun, Didin justru memilih pulang ke akar, membangun mimpi dari tanah kelahirannya melalui usaha peternakan bebek.

Namun, semangat saja tidak cukup untuk memberi makan ribuan unggas. Didin sempat terbentur tembok besar yang sering dihadapi pengusaha muda: permodalan. Di sinilah peran Bank Rakyat Indonesia (BRI) hadir sebagai jembatan bagi mimpi besarnya.

Baca Juga: Tersembunyi di Lereng Gunung Merapi, Desa Pentingsari Tawarkan Wisata Alam, Budaya, hingga Tur Lava yang Ramai Dicari

‎‎Melihat potensi pasar telur dan daging bebek yang terus meningkat, Didin memutuskan untuk menyeriusi usahanya. Dengan bekal tekad, ia mengakses fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI di awal tahun 2025. Pinjaman sebesar Rp30 juta yang ia terima menjadi titik balik (turning point) bagi keberlangsungan peternakannya.

Modal tersebut tidak ia gunakan untuk konsumsi pribadi, melainkan diinvestasikan sepenuhnya untuk revitalisasi kandang, membangun sanitasi yang lebih baik agar bebek tidak mudah terserang penyakit, juga menambah jumlah bibit bebek berkualitas untuk mengejar target produksi yang maksimal.

“Saya gunakan untuk sewa dua petak kandang dengan sistem pembayaran Rp2.000 per ekor saat panen. Sebagian lagi untuk pembelian bibit bebek,” ungkap Didin yang juga karyawan kampus swasta di Jombang ini.

Baca Juga: Di Balik Hidangan Sultan Yogyakarta, Ada Pawon Prabeya dan Lodeh Kluwih yang Jadi Lambang Kesederhanaan dan Kuasa

Ia menambahkan, kapasitas setiap kandang mampu menampung sebanyak 3.000 ekor bebek. Masing-masing, sambungnya, berukuran 20x30 meter. Namun, oleh Didin tidak sekaligus merawat sebanyak itu.

“Dibuat periodik. Jadi, periode pertama merawat 800 ekor terlebih dahulu. Selang lima belas hari, saya datangkan lagi sebanyak 1.000 ekor. Lima belas hari lagi, saya tambah menjadi 1.200 ekor,” terang bapak satu anak ini saat ditemui di kandang bebek miliknya, Rabu 13 Mei 2026.

Didin juga memastikan asupan nutrisi ternak terjaga demi menghasilkan produk yang kompetitif di pasar.

Usaha peternakan bebek pedaging yang digeluti Didin bukan berarti berjalan mulus terus. Ia sempat merugi saat periode kedua. Bebek yang dirawat dengan sepenuh hati tersebut banyak yang mati karena bencana alam. “Waktu itu kena banjir. Kematiannya mencapai lebih dari 50 persen,” kenang Didin.

Baca Juga: Ada Kamar yang Pernah Ditempati Soekarno, Begini Sejarah dan Pesona Wisata Rembangan Jember di Lereng Argopuro

Ia pun menyadari musibah tidak dapat ditolak. Tak patah arang, Didin melanjutkan usahanya dengan mendatangkan lagi sebanyak 1.200 ekor. Di periode ketiga ini, ia menerima untung lumayan besar.

“Waktu itu harga bebek pedaging mencapai Rp28 ribu per kilo,” katanya. 

Dalam merawat binatang ternaknya, Didin dibantu oleh dua orang. Sebab, kalau dirawat sendiri waktunya tidak mendukung.

Halaman:

Tags

Terkini