Forum tersebut membahas peluang kerja sama pentahelix, akses pembiayaan bagi pelaku kreatif, serta strategi promosi destinasi melalui event berbasis komunitas.
Usai diskusi, suasana pantai semakin hidup lewat pentas seni. Sejumlah komunitas menampilkan musik akustik, tari, hingga pembacaan puisi.
Hari kedua diisi kegiatan bersih pantai, senam pagi saat matahari terbit, serta permainan bersama.
"Kami ingin peserta pulang tidak hanya bawa kenangan, tapi juga jejaring dan peluang usaha baru," kata Febrian.
Panitia menilai kegiatan ini juga memberi dampak ekonomi langsung bagi warga Desa Balobone, terutama pada sektor homestay, kuliner, dan transportasi lokal.
"Sangat seru dan saya mendapatkan pengetahuan baru karena narasumber yg hadirpun insightful, rekreasinya dapat, jadi bisa healing sambil belajar tipis-tipis," kata Raflianti, peserta asal Baubau.
"Seruu sekali, cuaca boleh hujan, tapi suasana kebersamaan antara peserta dan panitia sangat hangat, apalagi workshopnya, isinya daging semua, healingnya dapat, teman baru dapat, ilmunya dapat, pokoknya bintang 5," ujar Adrun Nafis, peserta dari Buton Tengah.
Febrian menegaskan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda perkemahan tahunan.
"Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta sinergi yang berkelanjutan antara pelaku ekonomi kreatif, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun ekosistem kreatif yang kuat di Kabupaten Buton Tengah," tegasnya.
Ke depan, BTC menargetkan Camping Kreatif menjadi agenda rutin dengan skala lebih besar melalui kolaborasi bersama ICCN, Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta dukungan CSR perusahaan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!