Selain lonjakan volume, Windy juga menyoroti keterbatasan infrastruktur. Kapasitas lintas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk memang tidak sebesar Merak-Bakauheni.
Dengan hanya 8 unit dermaga di kedua sisi, serta terbatasnya jumlah kapal berukuran besar (di atas 2.000 GT), kecepatan bongkar muat menjadi tantangan tersendiri saat ribuan kendaraan datang secara bersamaan.
Menanggapi kondisi darurat ini, pihak ASDP telah melakukan sejumlah langkah strategis guna mengurai antrean.
ASDP kini mengoperasikan 35 unit kapal nonstop selama 24 jam, naik dari jumlah normal yang biasanya hanya 28 kapal.
Selain itu ASDP juga melakukan pola TBB (Tiba Bongkar Berangkat), sistem ini digunakan sebagai percepatan di mana kapal yang baru tiba langsung membongkar muatan dan segera memuat kendaraan kembali tanpa menunggu jadwal normal.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!