SketsaNusantara.id - Paus Leo XIV menyerukan penghentian perang di tengah eskalasi konflik Timur Tengah pasca serangan militer Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran.
Pemimpin Gereja Katolik seluruh Dunia yang juga merupakan Kepala negara Vatikan itu menyoroti situasi yang memanas setelah serangan Israel ke Teheran pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Serangan yang disebut-sebut sebagai bagian dari operasi militer besar di bawah pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, dan diklaim bertujuan menciptakan perdamaian di Timur Tengah itu menewaskan ratusan jiwa termasuk Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Islam Iran yang menjadi target serangan Israel.
Baca Juga: Dampak Serangan ke Iran, Jusuf Kalla Ingatkan Ancaman Gangguan Ekonomi dan Logistik
Tak berhenti di situ, Iran membalas serangan Israel dengan menyerang Tel Aviv dan sejumlah pangkalan militer AS di kawasan teluk termasuk di Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait hingga Bahrain.
Ketegangan yang kian meningkat juga berdampak luas pada jalur penerbangan internasional di Timur Tengah. Selain itu, Angkatan Laut Iran juga menutup selat Homuz dengan alasan keamanan yang ikut berpotensi mengguncang stabilitas pasokan energi global.
Konflik Israel-AS vs Iran yang kian memanas menimbulkan kekhawatiran bahkan ditakutkan akam memicu terjadinya Perang Dunia III.
Di tengah situasi tersebut, Paus Leo XIV menyampaikan keprihatinan mendalam. Dalam doa mingguan di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, pada hari Minggu, 1 Maret 2026, Paus Leo XIV menyerukan pesan damai dan mengajak pihak-pihak terkait untuk menghentikan perang yang menciptakan kehancuran.
"Saya mengikuti dengan keprihatinan mendalam. Apa yang terjadi di Timur Tengah dan di Iran," ujar Paus Leo, dikutip SketsaNusantara.id dari unggahan video di akun Instagram @vaticannews.
"Pada saat-saat dramatis ini, stabilitas dan keamanan tidak dibangun melalui timbal balik atau dengan senjata yang menebar kehancuran, penderitaan dan kematian, tetapi hanya melalui dialog yang masuk akal, tulus dan bertanggung jawab," lanjutnya.
Pope Leo juga menegaskan bahwa ancaman dan penggunaan kekuatan militer bukanlah jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan.
"Dalam menghadapi kemungkinan tragedi yang sangat besar, saya menyampaikan permohonan tulus, kepada pihak-pihak yang terlibat untuk memikul tanggung jawab moral dan menghentikan spiral kekerasan sebelum menjadi jurang yang tak dapat diperbaiki," tuturnya.