SketsaNusantara.id – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, pemandangan berbeda terlihat di Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang.
Jika mayoritas masyarakat Jawa melakukan tradisi nyadran atau ziarah kubur dengan suasana khidmat, warga di kampung justru berkumpul dan melakukan hal yang sangat berbeda.
Suasana riuh rendah dan tawa pecah saat ratusan warga, mulai dari anak-anak hingga orang tua melakukan tradisi ini, apa itu?
Masyarakat Desa Banjarnegoro punya tradisi unik tersendiri untuk menyambut Ramadhan, tidak ada suasana hikmat namun justru dipenuhi keceriaan dan canda tawa.
Masyarakat disana melakukan satu tradisi turun temurun bernama Bajong Banyu, tradisi yang terlihat tak biasa namun ternyata memiliki arti yang mendalam.
Dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV, tradisi Bajong Banyu merupakan tradisi saling mengguyur menggunakan gayung, plastik, hingga ember.
Meski basah kuyup, tidak ada kemarahan di wajah mereka, yang ada hanyalah kegembiraan bahwa mereka akan segera menyambut bulan puasa.
Bajong Banyu secara harfiah berasal dari bahasa Jawa yang berarti bermain atau berpesta air (perang air).
Tradisi ini biasanya dipusatkan di sumber mata air setempat, seperti Sendang Tuk Kalangan yang dianggap sebagai sumber kehidupan bagi warga desa.
Baca Juga: Daftar Twibbon Ramadhan 1447 H, Sambut Bulan Suci Ramadhan dengan Bingkai Foto Istimewa
Prosesi diawali dengan pengambilan air suci dari sendang, yang kemudian dikirab menuju pusat desa sebelum akhirnya masyarakat terutama anak-anak berkumpul bersiap untuk "perang air" yang dimulai secara massal.