Minggu, 19 Juli 2026

Beda Namun Miliki Makna Dalam, Warga Banjarnegoro Gelar Tradisi 'Basah-basahan' Ini Untuk Sambut Ramadhan

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Selasa, 17 Februari 2026 | 09:30 WIB
Tradisi Bajong Banyu di Banjarnegoro, Magelang  (YouTube KOMPASTV )
Tradisi Bajong Banyu di Banjarnegoro, Magelang (YouTube KOMPASTV )

 

SketsaNusantara.id – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, pemandangan berbeda terlihat di Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang.

Jika mayoritas masyarakat Jawa melakukan tradisi nyadran atau ziarah kubur dengan suasana khidmat, warga di kampung justru berkumpul dan melakukan hal yang sangat berbeda.

Suasana riuh rendah dan tawa pecah saat ratusan warga, mulai dari anak-anak hingga orang tua melakukan tradisi ini, apa itu?

Baca Juga: 7 Poster Islami Tema Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah, Desain Menarik tuk Ungkapkan Marhaban ya Ramadhan!

Masyarakat Desa Banjarnegoro punya tradisi unik tersendiri untuk menyambut Ramadhan, tidak ada suasana hikmat namun justru dipenuhi keceriaan dan canda tawa.

Masyarakat disana melakukan satu tradisi turun temurun bernama Bajong Banyu, tradisi yang terlihat tak biasa namun ternyata memiliki arti yang mendalam.

Dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV, tradisi Bajong Banyu merupakan tradisi saling mengguyur menggunakan gayung, plastik, hingga ember.

Baca Juga: Masuk Bulan Ramadhan 2026, BGN Tegaskan MBG Bebas UPF dan Makanan Pedas demi Keamanan Gizi Penerima Manfaat

Meski basah kuyup, tidak ada kemarahan di wajah mereka, yang ada hanyalah kegembiraan bahwa mereka akan segera menyambut bulan puasa.

Bajong Banyu secara harfiah berasal dari bahasa Jawa yang berarti bermain atau berpesta air (perang air). 

Tradisi ini biasanya dipusatkan di sumber mata air setempat, seperti Sendang Tuk Kalangan yang dianggap sebagai sumber kehidupan bagi warga desa.

Baca Juga: Daftar Twibbon Ramadhan 1447 H, Sambut Bulan Suci Ramadhan dengan Bingkai Foto Istimewa

Prosesi diawali dengan pengambilan air suci dari sendang, yang kemudian dikirab menuju pusat desa sebelum akhirnya masyarakat terutama anak-anak berkumpul bersiap untuk "perang air" yang dimulai secara massal.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: YouTube KOMPASTV

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X