news

Siapa Ketua BEM UGM? Ini Profil Tiyo Ardianto yang Mengaku Diteror Usai Kirim Surat ke UNICEF Suarakan Tragedi Kematian Siswa SD di NTT

Jumat, 13 Februari 2026 | 17:30 WIB
Potret Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM yang mengaku diteror hingga ancaman penculikan usai kritik pemerintah dalam surat yang dikirim ke UNICEF ketika menyuarakan tragedi kematian bocah SD di NTT (Instagram/tiyoardianto_)

Surat terbuka tersebut juga mengundang respons dan kritik publik luas karena isinya yang sangat tajam, termasuk terhadap kebijakan pemerintah yang sedang berjalan.

Isu ini kemudian jadi bahan perdebatan di berbagai media sosial. Banyak yang mendukung keputusan BEM UGM sebagai bentuk kontrol sosial mahasiswa terhadap kebijakan negara, sementara pihak lain mengingatkan agar tragedi kemanusiaan tidak dipolitisasi dan tetap difokuskan pada solusi konkret bagi masyarakat.

Setelah mengirim surat itu, Tiyo mengaku menerima berbagai bentuk teror melalui pesan misterius yang berisi ancaman penculikan. Tak hanya itu, ia juga mengaku dibuntuti dan beberapa kali difoto diam-diam dari jauh oleh orang tak dikenal.

Baca Juga: Sherly Annavita Alami Teror dari Lemparan Telur hingga Mobil Dicoret, Diduga Usai Kritisi Bencana di Sumatera

Publik menduga teror ini muncul sebagai respons terhadap sikap kritis Tiyo setelah surat BEM UGM viral dan menjadi sorotan nasional.

Tiyo sendiri menyebut hal ini sebagai "alarm kritik" dan suara rakyat seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman.

"ALARM KRITIK. Orang yang peduli pada bangsanya, apapun ekspresinya, tidak boleh dipandang sebagai ancaman. Indonesia itu milik semua, bukan hanya milik penguasa," ujarnya dalam pernyataan tertulis yang diunggah pada hari Kamis, 12 Februari 2026.

"Adalah hak kita untuk tegur "buruh outsourcing" yang kita pilih lima tahunan sebagai penyelenggara negara ketika kerjanya tidak beres," imbuhnya.

Baca Juga: Lama Tak Muncul, Atiatul Muqtadir Eks BEM UGM Akhirnya Buka Suara: Soroti Warna Perlawanan dan Kreativitas Generasi Muda

"Kritik harusnya jadi alarm yang membangunkan pemerintah dari tidur panjang, sayangnya, sebagaimana para pemalas, pemerintah lebih senang menghentikan alarm itu supaya bisa lanjut tidur lagi lalu bermimpi tentang Indonesia Emas 2045," tandasnya.

Dalam unggahannya, Tiyo menyatakan bahwa dirinya bersama BEM UGM akan terus bersuara dan tak akan mundur meski mendapat teror.

"Saya dan BEM UGM tidak akan takut apalagi gentar. Selama terus lahir orang-orang waras di Republik ini, selama itulah penguasa yang zalim tidak akan hidup tenang," ucapnya.

"Terima kasih untuk Rakyat Indonesia, berkat cahaya doa Anda semua, saya masih baik-baik saja. Saya akan terus baik-baik saja," pungkasnya.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini 

Halaman:

Tags

Terkini