Tiyo Ardianto terpilih sebagai Ketua BEM KM UGM 2025 berdasarkan proses demokrasi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, salah satu universitas tertua dan terbesar di Indonesia.
Ia dikenal sebagai sosok yang independen, kritis terhadap kekuasaan dan politik praktis. Sebagai Ketua BEM UGM, Tiyo kerap memimpin berbagai aksi pergerakan mahasiswa.
Dalam beberapa aksi yang dipimpin atau didukungnya, Tiyo kerap menyuarakan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai kurang berpihak kepada rakyat, terutama dalam aspek pendidikan.
Tiyo bersama BEM KM UGM pernah mendesak pemerintah untuk meninjau ulang efisiensi anggaran nasional yang berdampak pada sektor pendidikan dan kesehatan, serta menolak pemangkasan anggaran yang berdampak pada kualitas pendidikan.
Sebelumnya, Tiyo Ardianto sempat ramai jadi sorotan publik setelah memutuskan mundur dari jabatan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI).
Tiyo mengkritik Munas yang dihadiri pejabat negara yang menunjukkan kedekatan BEM SI dengan para penguasa. Menurutnya, hal ini dinilai tidak mencerminkan nilai perjuangan mahasiswa yang seharusnya berdiri di luar pengaruh kekuasaan.
Keputusan Tiyo mundur dari BEM SI sebagai langkah untuk menjaga independensi dan fokus terhadap gerakan mahasiswa yang dinilai lebih berpihak kepada rakyat ketimbang politik kekuasaan
Aksi Tiyo yang paling menyita perhatian publik baru-baru ini adalah ketika ia dan BEM KM UGM mengirim surat terbuka kepada UNICEF.
Dalam suratnya, BEM UGM menyoroti tragedi kematian seorang siswa SD di NTT dan menilai peristiwa tragis tersebut merupakan bentuk kegagalan negara dalam menjamin hak dasar anak atas pendidikan dan perlindungan sosial, yang seharusnya dijamin oleh konstitusi dan hukum nasional.
Ia menyuarakan kritik tajam terhadap pemerintah atas prioritas kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada kelompok masyarakat paling rentan.
"Akar penyebab dari tragedi ini adalah egoisme individu dan politik dari Presiden kita yang sombong, Prabowo Subianto," tulis Tiyo dalam surat yang diunggah di akun Instagram @tiyoardianto_ pada tanggal 6 Februari 2026.
"Bukannya memprioritaskan anggaran untuk memperbaiki kesetaraan dan keadilan sistemik, ia justru sengaja memotong anggaran pendidikan untuk kebijakan yang berbiaya tinggi, berisiko bencana, dan berpotensi keracunan makanan yang disebut Makan Bergizi Gratis," lanjutnya.