SketsaNusantara.id - Sungai Blorong yang meluap memicu banjir mendadak di sejumlah wilayah Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Peristiwa itu terjadi saat sebagian besar warga tengah terlelap.
Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut sejak Selasa malam, 10 Februari 2026, hingga Rabu dini hari, 11 Februari 2026. Debit air yang meningkat tajam membuat aliran sungai tidak mampu menampung volume hujan.
Luapan air kemudian mengalir ke permukiman warga yang berada di sekitar bantaran sungai. Banjir datang cepat tanpa memberi waktu persiapan bagi masyarakat setempat.
Kepanikan warga terekam dalam unggahan video akun Instagram @kang_opix_drone dari Desa Rejosari. Dalam video itu, terlihat air berwarna cokelat mulai memasuki rumah warga.
“Ya Allah Gusti, kebanjiran. Hari ini Kali Blorong tidak bersahabat,” ucap pemilik akun dalam rekaman tersebut.
Dalam unggahan lain, warga tersebut memperlihatkan kondisi rumah yang semakin terendam. Ketinggian air terlihat naik dengan cepat, membuat aktivitas penyelamatan barang berlangsung tergesa-gesa.
Ia menyebut air mulai masuk sekitar tengah malam ketika sebagian besar warga sedang tertidur. Kondisi tersebut membuat banyak orang terbangun dalam keadaan panik.
Banjir yang datang secara tiba-tiba menyebabkan sejumlah barang tidak sempat diselamatkan. Perabot rumah tangga, kasur, serta peralatan elektronik terendam air keruh.
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kendal, banjir akibat luapan Sungai Blorong melanda beberapa kecamatan. Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Boja, Kaliwungu Selatan, Ngampel, dan Brangsong.
Di Kecamatan Ngampel, dampak banjir tercatat paling luas. Desa Rejosari menjadi wilayah dengan jumlah rumah terdampak terbanyak.
Sekitar 600 rumah di desa tersebut terendam banjir dengan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Air masuk hingga ke ruang tamu dan kamar tidur warga.
Sementara itu, di Desa Ngampel Kulon, sekitar 350 rumah terendam dengan ketinggian air mencapai satu meter. Sejumlah akses jalan desa juga ikut tergenang, menghambat mobilitas warga.