news

5 Isi Surat BEM UGM ke UNICEF: Soroti Tragedi Bocah NTT sebagai Kegagalan Sistem, Kritik Kebijakan Pemerintah hingga Sindiran Pedas ke Presiden

Sabtu, 7 Februari 2026 | 18:30 WIB
Potret surat BEM UGM kepada UNICEF menyuarakan keprihatinan terhadap kasus bocah SD di NTT yang nekat akhiri hidup karena tak bisa beli buku karena keterbatasan ekonomi (Instagram/mahasiswa_bergerakk)

Selain itu, BEM UGM juga menyinggung pemerintah yang seolah memprioritaskan program MBG (Makan bergizi Gratis) yang dinilai beresiko dan tidak secara langsung menyentuh akar persoalan pendidikan.

"Akar penyebab dari tragedi (di NTT) ini adalah egoisme individu dan politik dari Presiden kita yang sombong," tulisnya.

"Bukannya memprioritaskan anggaran untuk memperbaiki kesetaraan dan keadilan sistemik, ia justru sengaja memotong anggaran pendidikan untuk kebijakan yang berbiaya tinggi, berisiko bencana, dan berpotensi keracunan makanan yang disebut Makan Bergizi Gratis," ujarnya.

Baca Juga: Gaji Guru Honorer Dibandingkan Program MBG, Ferry Irwandi Soroti Realita Upah dan Aturan ASN

 5. Seruan ke UNICEF dan Kritik Keras terhadap Kepemimpinan Nasional

Di bagian akhir surat, BEM UGM mendesak UNICEF memperkuat advokasi perlindungan anak di Indonesia serta mendorong kebijakan pendidikan yang lebih inklusif dan adil.

"Kami mendesak UNICEF untuk meningkatkan perannya di Indonesia dengan mengadvokasi kebijakan perlindungan anak yang lebih kuat, mengamankan anggaran pendidikan, dan memastikan masa depan setiap anak. Sehingga penderitaan dan kematian yang dapat dicegah tidak terjadi lagi akibat kegagalan kebijakan," pesannya.

Tak hanya melalui surat, kritik pedas juga disampaikan Tiyo Ardianto melalui akun media sosial pribadinya yang berisi pandangan tajam terhadap kepemimpinan kepala negara. 

Baca Juga: Mengapa Pendidikan Harus Berpihak pada Kepentingan Publik? Pesan Ferry Irwandi yang Mengundang Perhatian Netizen

"Kita sedang dipimpin oleh orang bodoh yang tidak sadar bahwa dirinya bodoh dan karenanya tak pernah mau belajar, tapi justru memilih menularkan kebodohannya kepada yang lain," tulis Ketua BEM UGM melalui akun Instagram @tiyoardianto_.

Langkah BEM UGM ini menuai beragam respons hingga memicu pro kontra di media sosial. Sebagian pihak menilai tindakan tersebut sebagai bentuk kontrol sosial mahasiswa terhadap kebijakan negara, sementara pihak lain mengingatkan agar tragedi kemanusiaan tidak dipolitisasi dan tetap difokuskan pada solusi konkret bagi masyarakat.

Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, polemik ini menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap isu perlindungan anak, kemiskinan struktural, serta pentingnya kebijakan pendidikan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini 

Halaman:

Tags

Terkini