SketsaNusantara.id – Tragedi meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menuai duka mendalam sekaligus kemarahan publik.
Bocah berinisial YBS itu diketahui mengakhiri hidupnya karena diduga tidak mampu membeli buku dan pena untuk keperluan sekolah.
Kasus memilukan ini mendapat sorotan tajam dari aktris sekaligus Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka. Melalui akun Instagram pribadinya, Rieke mengunggah video wawancara dengan ibu YBS yang mengungkap fakta menyayat hati.
Dalam video tersebut, sang ibu menceritakan bahwa anaknya sempat menanyakan soal PIP (Program Indonesia Pintar), bantuan pendidikan yang belum diterima selama beberapa tahun terakhir, yang seharusnya bisa digunakan untuk membiayai kebutuhan sekolah.
YBS sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen untuk sekolah, namun tak terpenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Sungguh disayangkan, padahal YBS dikenal sebagai anak berprestasi. Ia bahkan masuk peringkat 10 besar di kelasnya.
Sang ibu juga menyebut YBS punya semangat belajar yang tinggi meski hidup dalam keterbatasan ekonomi. Namun, tekanan karena tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolah yang akhirnya membuat bocah itu memilih jalan tragis.
Lebih miris lagi, dalam surat yang ditinggalkan sebelum meninggal, YBS menuliskan keinginannya untuk membeli buku dan pensil.
Fakta ini memicu kritik luas dari masyarakat yang menilai kejadian tersebut sebagai simbol kegagalan negara dalam melindungi hak dasar anak atas pendidikan.
Di tengah sorotan publik, Rieke Diah Pitaloka mengunggah postingan bertajuk "Viral for Justice" yang ikut menyoroti tragedi bocah SD di NTT.
Ia menegaskan bahwa kasus ini tidak cukup disikapi dengan kemarahan semata, melainkan harus dibedah secara struktural, terutama terkait persoalan data bantuan sosial.