SketsaNusantara.id - Tragedi meninggalnya Syafiq Ridwan Ali Razan di Gunung Slamet, yang diduga akibat hipotermia, menjadi pengingat pahit bagi kita semua, khususnya para penggiat alam bebas.
Gunung bukan sekadar medan petualangan. Ia adalah lingkungan ekstrem yang tidak menoleransi kesalahan kecil, kesalahan yang kerap berujung fatal.
Di ketinggian, suhu udara dapat berubah menjadi musuh paling mematikan dan memicu kondisi-kondisi yang tidak mampu ditoleransi tubuh manusia. Salah satunya adalah hipotermia.
Berikut ini sejumlah “pembunuh senyap” yang sering menghantui pendaki gunung di berbagai belahan dunia, dikutip dari jurnal Wilderness and Environmental Medicine (Scimago Journal Rank).
1. Hipotermia
Hipotermia, seperti yang diduga dialami Syafiq Ridwan Ali Razan, merupakan penyebab kematian utama pada pendaki gunung.
Hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh turun drastis di bawah 35°C, jauh dari suhu normal tubuh manusia sekitar 37°C.
Kondisi ini mematikan karena saat tubuh terlalu dingin, jantung, sistem saraf, dan organ vital lainnya tidak dapat berfungsi normal. Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan henti jantung (cardiac arrest).
Gejala fase kritis hipotermia dimulai dari menggigil hebat, bicara tidak terkontrol, hingga fase berbahaya yang dikenal sebagai paradoxical undressing.
Pada fase ini, pendaki justru merasa kepanasan akibat kerusakan saraf, sehingga melepas pakaian mereka sendiri. Kondisi ini hampir selalu berujung pada kematian.
Diduga inilah yang terjadi pada Syafiq. Ia ditemukan meninggal dunia di sekitar jurang terjal dengan suhu ekstrem, namun dalam kondisi tidak mengenakan sepatu, dan celana berada di lutut, seolah berusaha dilepaskan.
2. Frostbite