Tak hanya itu, laporan terhadap sejumlah akun media sosial yang diduga melakukan framing negatif terhadap Madas juga akan ditarik.
"Segera, akan dicabut laporannya, intinya semua ini sudah clear. Tujuan kami hanya memastikan posisi kebenaran, apakah ada keterlibatan ormas atau tidak. Ternyata tidak ada kaitannya," kata Taufik.
Ia berharap, dengan dicabutnya laporan ini, tidak ada lagi pihak-pihak yang menggoreng isu hingga berkembang menjadi sentimen rasisme.
"Program Madas itu fokusnya adalah meningkatkan sumber daya manusia, banyak kegiatan positif yang dilakukan anggota kita tapi akhir-akhir ini ada framing negatif mengaitkannya dengan Madas, kuncinya sekarang kita menciptakan situasi kondusif di Surabaya," pungkas Taufik.
Di sisi lain, Armuji turut menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Ia mengakui adanya kekhilafan saat menyebut nama Madas dalam konten sidak kasus Nenek Elina yang diunggah di akun media sosialnya.
Armuji menegaskan tidak memiliki niat untuk menyudutkan masyarakat Madura maupun ormas Madas.
"Saya juga meminta maaf mungkin kekhilafan saya dalam bertutur kata. Bolak-balik saya ngomong oknum ormas, kalaupun bukan orang Madas, maka organisasi tersebut wajib memberikan sanksi tegas," ucap Armuji.
Dengan tercapainya perdamaian ini, kedua pihak sepakat menjadikan peristiwa tersebut sebagai pembelajaran bersama dan berkomitmen menjaga kondusivitas serta kerukunan di Kota Pahlawan.
"Mari kita menenangkan suasana, saling bergandengan tangan serta bersama-sama menjaga persaudaraan dan kondusivitas," pesan Armuji.
"Saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun dan menjaga Kota Surabaya agar tetap aman, damai dan lebih baik ke depannya," pungkasnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini