"Lucu, saat rakyat nunggak bayar listrik atau token habis langsung jaringan listrik keputus, tapi uang tetep ada buat bayar gaji direksi dan komisaris, padahal teknisi yang tiap hari 24 jam standby & gak libur, gaji mereka bahkan ada yang di bawah UMR," timpal warganet lainnya.
CBA menyoroti penurunan laba di tengak lonjakan utang yang menunjukkan bahwa pendapatan operasional PLN tergerus habis karena biaya operasional dan beban bunga pinjaman hutang yang kian membengkak.
Tak hanya itu, keuangan perusahaan juga tampaknya terbebani oleh kewajiban pembayaran kontrak listrik swasta (IPP) lantaran PLN tetap harus membayar pasokan listrik dari pihak ketiga meskipun tidak terserap oleh konsumen (oversupply).
Dengan demikian, utang di masa lalu yang belum sepenuhnya terlunasi ditambah lagi dengan beban operasional di tahun berikutnya, sehingga laba bersih terus menurun.
Hingga saat ini, PLN tetap melayani kebutuhan listrik jutaan rumah tangga dan industri di Indonesia, serta mencatat pendapatan operasional yang kuat.
Namun, masyarakat khawatir bahwa tekanan finansial yang berkelanjutan dapat memengaruhi kualitas layanan hingga mendorong kenaikan tarif listrik di masa depan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini