SketsaNusantara.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah baru-baru ini merilis laporan hasil rekapitulasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2025 untuk jenjang SMA.
Data tersebut ternyata menunjukkan adanya tren penurunan skor rata-rata nasional pada pelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Matematika dibandingkan tahun sebelumnya.
Hal ini kemudian coba dianalisa oleh Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Toni Toharudin terkait penyebab fenomena ini.
Toni Toharudin memberikan analisis mendalam bahwa ada faktor-faktor sistemik yang menyebabkan fenomena ini terjadi.
"Nilai rerata yang rendah ini tentunya tidak serta merta si siswa ini gagal atau soal terlalu sulit," ungkap Toni Toharudin dikutip dari kanal YouTube Liputan6.
"Hasil TKA tahun ini, 2025, justru mencerminkan potret yang saya kira objektif, kemampuan aktual siswa kita secara nasional setelah sekian lama sistem evaluasi kita lebih menekankan pada pencapaian administratif nilai raport," tegasnya.
Menurut Toni ada beberapa point kunci yang harus dipahami bahwa karakter kunci dari tes kemampuan akademik adalah mengukur kemampuan siswa didalam penalaran membaca untuk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris serta pemahaman konsep problem solving untuk pelajaran matematika.
Untuk itu siswa perlu diberikan penguatan literasi dan numerasi Integrasi soal penalaran ke dalam setiap mata pelajaran, bukan hanya matematika atau bahasa.
Sebab nilai TKA saat ini digunakan sebagai alat diagnosis nasional sehingga harus dilakukan perbaikan menyeluruh serta sistemik.
Untuk itu ia menekankan supaya ada perbaikan praktek pembelajaran di kelas serta menguatkan kompetensi guru atau sumber daya manusia.
Sehingga dari penguraian diatas maka disimpulkan dalam menyelesaikan masalah ini adalah kebutuhan sumber daya guru yang memadai dan sangat mendesak yang mengajar di satuan pendidikan.
Sedangkan terkait Kurikulum Merdeka menurutnya sama sekali tidak dirubah namun telah diimplementasikan secara luas.