news

Stop Atraksi Politik! UAH Ingatkan Elit Politik untuk Fokus Prioritaskan Bantu Korban Bencana dan Lakukan Evaluasi hingga Serukan Taubat Nasional

Sabtu, 6 Desember 2025 | 10:00 WIB
UAH himbau elit politik fokus bantu bencana banjir termasuk yang terdampak paling parang di Aceh hingga Sumatera Barat, prioritaskan pada kemanusiaan dan hentikan atraksi untuk kepentingan politik (YouTube Adi Hidayat Official)

Baca Juga: WALHI Beberkan Kerusakan Hutan 2016–2024 di Aceh, Sumut, dan Sumbar, Ratusan Izin Tambang hingga Proyek Energi Terkait Deforestasi

Seruan UAH tentang pentingnya ketulusan dan fokus pada kemanusiaan menjadi sorotan tersendiri di tengah ramainya pemberitaan terkait kunjungan pejabat negara yang datang ke lokasi bencana.

Publik ikut menyoroti fenomena pejabat yang tampil membawa rombongan yang disorot kamera, menangis di depan korban, atau memamerkan aktivitas berbagi bantuan, padahal sebagian kebijakan yang mereka buat di masa lalu justru dianggap berkontribusi pada kerusakan lingkungan.

Salah satu yang menyita perhatian adalah kemunculan Menhut Raja Juli Antoni dan Zulkifli Hasan (Zulhas) yang ikut memanggul karung beras di lokasi banjir hingga Verrell Bramasta dengan rompi taktis bertuliskan 'DPR RI' yang jadi buah bibir di media sosial.

Aksi-aksi tersebut tuai kritik karena dinilai lebih dekat dengan pencitraan ketimbang niatan untuk tulus membantu korban bencana.

Baca Juga: Ramai Disorot, Verrel Bramasta Buka Suara Usai Penampilannya Dicibir Gegara Pakai Rompi Taktis saat Sambangi Korban Bencana Sumatra, Begini Faktanya

Menolak lupa, publik masih terus mengingat rekam jejak dan kontroversi sejumlah pejabat yang pernah menerbitkan izin alih fungsi hutan atau pembukaan lahan skala besar yang kini diduga menjadi salah satu pemicu kerentanan bencana di Sumatra.

Di tengah situasi tersebut, seruan UAH agar para elit menahan diri dan menghentikan "atraksi politik" terasa sangat relevan.

Publik menginginkan pemerintah hadir dengan empati dan tindakan konkret, bukan penampilan dramatis di depan kamera.

Masyarakat berharap penanganan bencana berfokus pada evakuasi, bantuan logistik, dan pemulihan lingkungan, bukan pada pencitraan personal terlebih untuk menciptakan image dan ada maksud terselubung di belakangnya.

Baca Juga: 2 Bupati Menyatakan Tidak Mampu Tangani Bencana, Status Darurat Nasional Jadi Sorotan setelah Respons Prabowo di Sumatera

Pada akhirnya, krisis kemanusiaan di Aceh, Sumut, dan Sumbar menjadi cermin kebijakan lingkungan Indonesia yang harus diperbaiki dan menjadi tantangan besar ke depannya.

Musibah banjir dan longsor di Sumatera bukan sekadar bencana alam belaka, tetapi peringatan keras bahwa kerusakan alam tidak pernah berdiri sendiri dan ada campur tangan para penguasa di baliknya.

Seperti pesan UAH, bencana adalah panggilan untuk kembali pada kepedulian, evaluasi diri, dan keberanian memperbaiki kebijakan agar tragedi serupa tidak terus berulang karena dampaknya tak hanya merugikan manusia tetapi juga merusak ekosistem yang mengancam kehidupan satwa liar di dalamnya.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini 

Halaman:

Tags

Terkini