"Saya mohon kepada para elit tolong stop dulu beragam dinamika politiknya, beragam atraksi-atraksi politik-politiknya. Mohon perhatiannya dengan tulus diarahkan dulu pada saudara-saudari kita yang berada di tiga wilayah ini yang memang sangat membutuhkan bantuan kita," pesannya.
Sebagaimana diketahui, banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat masih terus menjadi perhatian publik.
Bencana besar ini bahkan dinilai lebih parah dari tsunami Aceh yang terjadi 20 tahun lalu yang menewaskan lebih dari 800 orang sementara ratusan lainnya masih belum ditemukan.
Baca Juga: Ferry Irwandi Terjun Langsung ke Langkat Usai Galang Dana Rp10,3 Miliar untuk Korban Banjir Bandang
Melalui video tersebut, UAH menyampaikan bahwa bencana ini menjadi pengingat sekaligus pelajaran untuk melakukan evaluasi secara total hingga menyerukan untuk bertaubat.
"Musibah ini mengingatkan kita semua untuk bisa memberikan kepekaan dan perhatian yang maksimal. Tentu saja saya meyakini perhatian itu ada, tinggal barangkali prioritas yang harus kita
tempatkan," ujarnya.
"Saya mengajak juga pada diri saya pribadi dan kita semua mari kita melakukan evaluasi secara kolektif, muhasabah diri, introspeksi dalam bahasa agama taubat. Taubat secara nasional untuk kita semua," terangnya.
UAH menilai bencana besar yang menimpa tiga provinsi itu bukan hanya ujian, melainkan juga refleksi atas kerusakan lingkungan yang selama ini diabaikan.
Menurutnya, manusia memiliki andil dalam berbagai kerusakan yang memicu terjadinya bencana alam. Karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk berubah serta menata lingkungan dengan lebih bijak.
"Dalam firman Allah yang disampaikan dalam Al-Qur'an, tentu bila ada musibah itu adalah akibat dampak dari kerusakan baik lingkungan, alam ataupun sekitaran kita tidak jauh akibat dari ulah tangan-tangan manusia," tuturnya.
"Saya manusia, anda manusia, kita manusia. Tanpa sadar mungkin kita juga banyak berperan menghadirkan beragam macam bentuk kerusakan yang daya rusaknya bisa berdampak pada sesuatu yang tidak baik. Mari kita evaluasi bersama," pesannya.
Dalam pesan panjangnya, UAH mengajak seluruh pihak, termasuk pemerintah, untuk melakukan muhasabah dan evaluasi menyeluruh agar kerusakan serupa tidak terus terulang.
"Saya mohon pula pada orang-orang ataupun instansi atau bahkan institusi yang barangkali melihat fenomena yang muncul saat ini akibat dari ulah-ulah yang mungkin pernah terjadi belakangan ini. Mohon mohon dan mohon direnungkan," ujarnya.
"Sekali lagi perhatikanlah dampaknya. Berapa banyak orang harus mendapatkan akibat dari itu semua? Korban kehilangan beragam hal, negara menanggung kembali dan banyak energi harus ditumpahkan untuk mengatasi hal-hal demikian. Tentu semua itu takdir Allah SWT, tapi itu untuk diterima oleh kita dengan perenungan, pemikiran, perubahan untuk menjadi lebih baik," pungkasnya.
Artikel Terkait
Pasokan BBM dan Listrik Terganggu akibat Banjir–Longsor Sumatera, PLN hingga Pertamina Ungkap Upaya Pemulihan dalam Rapat di Kemendagri
Bahlil Lahadalia Pantau Bencana Alam Banjir di Sumatra Naik Helikopter Malah Panen Hujatan, Netizen: Ini Semua Gegara Anda!
PMI Jember Kirim 100 Kantong Darah untuk Sumatera dan Aceh, Upaya Cepat Menjawab Kebutuhan Korban Bencana
Mahfud MD Bicara Blak-blakan soal Bencana Sumatera, Kerusakan Hutan, hingga Dugaan Kolusi Perizinan yang Dinilai Memicu Longsor dan Banjir
Sorotan Keras DPR atas Cara Bantuan Dilempar dari Helikopter, Firman Soebagyo dan Puan Maharani Desak Evaluasi Mekanisme Distribusi Udara di Sumatera
Titiek Soeharto Tunjukkan Video Truk Angkut Kayu Gelondongan 2 Hati Pasca Bencana di DPR: Sungguh Menyakitkan