Ketika gelombang ini aktif, terjadi perubahan tekanan udara di atmosfer yang membuat kondisi udara menjadi tidak stabil.
Hal tersebut memicu pertumbuhan awan konvektif secara masif, yang kemudian berpotensi menimbulkan hujan lebat, angin kencang, hingga badai lokal di wilayah terdampak.
BMKG menjelaskan bahwa aktivitas gelombang Rossby di wilayah Jawa Timur saat ini menjadi salah satu pemicu utama cuaca ekstrem.
Dampaknya dapat dirasakan di berbagai daerah seperti Kota Surabaya, Pasuruan, Blitar, Jember, hingga Pulau Madura dan wilayah selatan seperti Malang dan Lumajang.
Sebagian besar wilayah Jatim berpotensi mengalami peningkatan curah hujan disertai petir dan angin kencang dalam beberapa hari ke depan.
Selain Gelombang Rossby, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) juga berperan besar terhadap pola cuaca di Indonesia.
Dalam situs resmi BMKG, dijelaskan bahwa MJO merupakan gelombang atmosfer atau fluktuasi cuaca tropis yang bergerak di sepanjang khatulistiwa.
MJO merupakan fenomena pergerakan sistem awan hujan tropis yang berulang setiap 30–60 hari dan berpindah dari Samudra Hindia menuju Samudra Pasifik.
Fenomena ini membawa denyut awan dan hujan, serta memengaruhi pola cuaca secara signifikan, seperti meningkatkan curah hujan di satu area (fase basah) dan menekan hujan di area lain (fase kering).
MJO sangat penting untuk prediksi cuaca jangka menengah karena dapat memicu cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan bahkan siklon tropis.
Saat fase aktif MJO melintas di Indonesia, kelembapan udara meningkat signifikan sehingga mendukung terjadinya hujan dengan intensitas tinggi.
Tak hanya itu, BMKG juga menyebut adanya pengaruh gelombang Kelvin yang dapat memperkuat pembentukan awan hujan dan meningkatkan potensi hujan deras serta badai petir di wilayah yang dilaluinya.
Gelombang Kelvin sering berinteraksi dengan sistem cuaca lain seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) dan Gelombang Rossby, yang secara bersamaan dapat memicu cuaca ekstrem.