SketsaNusantara.id - Tayangan program "Xpose Uncensored" Trans7 yang menayangkan segmen tentang Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo di Kediri memicu perdebatan sengit dan kontroversi.
Tayangan tersebut menjadi kontroversi karena beberapa alasan utama, yang semuanya berpusat pada masalah etika jurnalistik, penghormatan terhadap nilai agama dan budaya lokal dan dianggap penggiringan opini negatif terhadap pesantren.
Dalam hal ini, Putri Presiden ke-4 Gus Dur yakni Yenny Wahid, turut menyuarakan pandangannya terkait kontroversi yang disebut sebagai tayangan yang menyudutkan kyai dan pesantren di media massa.
Dalam tanggapannya, Yenny Wahid menekankan pentingnya bersikap adil dalam melihat peran dan kontribusi pesantren di Indonesia.
Serta mengingatkan kembali sejarah panjang pesantren sebagai lembaga pendidikan yang telah lama menjadi pembuka pintu ilmu bagi rakyat kecil, bahkan sejak masa penjajahan.
"Banyak yang lupa bahwa pesantren lahir bukan dari kemewahan tapi dari keikhlasan," ungkap Yenny Wahid dilansir dari SketsaNusantara.id dikutip dari akun tiktok @Zannuba Yenny Wahid.
Yenny menjabarkan bahwa sejak zaman penjajahan ketika akses pendidikan diputus bagi rakyat kecil, pesantren tampil didepan sebagai pembuka jalan bagi satu-satunya pendidikan bagi masyarakat pribumi.
Para ulama yang baru pulang dari Timur Tengah membangun pesantren agar rakyat tidak tenggelam didalam kebodohan.
Pada saat itu para ulama mengajar dibayar dengan beras, singkong, hasil bumi dan kadang sama sekali tak dibayar dan menurutnya pesantren hingga saat ini masih hidup dengan semangat yang sama.
Di mana biaya pesantren sangat murah dan bahkan gratis bagi santri yang yang yatim serta warga sekitar pesantren sehingga akibatnya para santri belajar ditempat yang seadanya.
Untuk itu putri sulung Gus Dur ini meminta kepada semua orang untuk ikut peduli kepada pesantren agar pesantren menjadi tempat yang aman bagi santri-santrinya.