SketsaNusantara.id – Perjuangan Marsinah menuntut keadilan bagi kaum buruh harus diapresiasi. Komitmennya untuk melawan ketidakadilan menjadi inspirasi bagi gerakan reformasi 1998. Sehingga iklim demokrasi bisa dibuka, meski dia harus kehilangan nyawa.
Berbagai nilai perjuangan ini mendorong Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nganjuk mendukung penuh usulan Marsinah menjadi penerima gelar pahlawan nasional. Hal itu diungkapkan Ketua PC GP Ansor Nganjuk Hamid Muzakki, Sabtu 11 Oktober 2025.
Ditemui di ruang kerjanya, alumni UIN Sunan Ampel Surabaya ini mengakui semangat perjuangan buruh perempuan asal Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Nganjuk ini dalam menuntut keadilan. Bersama organisasi pemuda Nganjuk lainnya, dukungan itu disampaikan dalam seminar nasional yang sudah digelar di Hotel Front One Nganjuk, Jumat kemarin.
"Kegiatan seminar kemarin menjadi momentum penting bagi masyarakat dan organisasi kepemudaan di Nganjuk untuk mendorong pengusulan Marsinah sebagai pahlawan nasional," ujarnya.
Meski harus kehilangan nyawa, sambung dia, dedikasinya dalam memperjuangkan hak-hak buruh dan keadilan sosial di Indonesia harus terus dijaga. "Dan, kami punya garis perjuangan yang sama dalam membela kaum mustad'afin, khususnya rekan-rekan buruh," tandasnya.
Mahasiswa pascasarjana UIN Syaikh Wasil Kediri ini menambahkan, Marsinah satu-satunya calon pahlawan nasional dari kalangan masyarakat bawah. "Bukan dari keluarga priyayi ataupun bangsawan, tapi murni orang desa," jelasnya.
Mantan aktivis PMll ini juga mendorong makin banyak pahlawan nasional dari kaum perempuan. "Karena data dari Kemensos Rl, dari 206 pahlawan nasional, hanya 16 orang perempuan," ucapnya.
Pihak PC GP Ansor Nganjuk, lanjutnya, berharap nilai-nilai kepahlawanan yang sudah ditunjukkan Marsinah bisa dilestarikan generasi muda. Khususnya di wilayah Nganjuk. "Itulah kenapa kemarin Forum Aliansi Pemuda Nganjuk menggelar seminar yang mengusulkan Marsinah jadi pahlawan nasional," pungkasnya.
Seminar itu sendiri dibuka oleh Menteri Sosial Rl Syaifullah Yusuf. Narasumber yang hadir Agus Jabo Priyono (Wamensos), Irwan Setiawan (Komnas Perempuan Rl), Didik Prajogo (sejarawan UI Jakarta) dan Marsini, kakak kandung Marsinah.
Baca Juga: Maarten Paes Tuai Pujian dan Dukungan dari Netizen Jelang Laga Penentuan Lawan Irak
Sedikitnya 250 peserta hadir pada seminar itu. Baik mahasiswa, tokoh masyarakat, aktivis buruh, tokoh perempuan hingga tokoh agama.
Hadir sebagai undangan Wakil Bupati Nganjuk. Termasuk para pejabat dari Kementerian Sosial Rl dan anggota DPRD Provinsi Jawa Timur.