SketsaNusantara.id - Tamasya Halaman Belakang menggelar hari terakhir pagelaran seni bertajuk Spring Code di desa Sumber Beringin, Kecamatan Sumbersari.
Terdapat empat penampil dari Jember, Bondowoso, dan Situbondo yang dihadirkan pada malam terakhir, serta tiga titik instalasi pameran yang dapat dikunjungi oleh para pengunjung.
Menurut Edwin Roseno, selaku Kurator Spring Code, Tamasya Halaman Belakang merupakan program kolaborasi antara dua komunitas yaitu, Studi Ruang Tutur dan Kolektif Akar Retak.
“Jadi ya buat kita (THB) semua latihan gitu untuk berproses bersama menciptakan karya seni,” Tambah Edwin Roseno menjelaskan THB sebagai laboratorium seni dan literasi inklusif lintas disiplin.
Menurut Edwin, kegiatan Spring Code bukan kali pertama THB memperkenalkan diri.
Sebelumnya, THB telah menggelar Workshop Metodologi penciptaan seni sebagai bagian dari tahap 1 dan pengenalan mereka ke publik.
Selanjutnya dalam tahap 2, THB menggelar Workshop Performance art yang ditujukan sebagai jalan masuk untuk membicarakan personalitas dan kolektif, barulah pada tahapan ketiga Spring Code digelar sebagai bentuk pagelaran seni.
Spring Code juga termasuk kedalam program Sesarengan Biennale Jatim 2025.
Sesuai dengan tajuk yang dipilih, Spring Code hadir untuk memantik kesadaran masyarakat dan pengunjung akan pentingnya merawat mata air melalui seni dan kebudayaan.
Pagelaran seni Spring Code telah berlangsung sejak 26 September lalu.
Digelar selama tiga hari, Spring Code dimeriahkan dengan berbagai aktivitas seperti aktivasi karya, telusur sungai, diskusi, dan hiburan.