“Berkabung adalah jeda untuk jujur menatap sejarah, memelihara ingatan, dan menagih hak rakyat dan janji-janji konstitusi kepada Republik Indonesia,” tulisnya.
Di sisi lain, merayakan tetap penting, meski dilakukan dengan penuh doa dan refleksi. Bagi Gustika, makna kain slobog adalah simbol bahwa dari duka pun masih ada ruang untuk menyemai harapan.
“Merayakan adalah memanjatkan doa dan harapan, sebagaimana makna kain slobog itu sendiri, yang mengingatkan pada batas antara yang pergi dan yang tinggal,” pungkasnya.
Unggahan Gustika tersebut menuai beragam respons publik. Banyak netizen yang memberikan apresiasi atas keberanian dan ketulusannya menyuarakan kritik lewat simbol kebudayaan.
“This country deserves better. Thank you for this act of courage, Tika,” tulis akun @afutami.
“INILAH FASHION IS POLITICAL ITU!” komentar @sebuahruanggila.
“Sebagai belasungkawa atas matinya rasa empati dan rasa malu,” ungkap @nadianesa.
“Bangga, Suarakan terus kebenaran demi keadilan di Indonesia,” kata @jaysubyakto.
Sementara akun lain menuliskan, “This perfectly sums up how I feel,” ujar @vyynid.
Gustika Jusuf, dengan kebaya hitam dan batik slobognya, seakan mengajak masyarakat merenung lebih dalam, apakah kemerdekaan sudah benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat, ataukah masih ada luka yang terus terbuka?
Pada akhirnya, busana yang dikenakan Gustika menjadi semacam doa dan peringatan. Doa agar Indonesia tidak kehilangan arah, dan peringatan bahwa kemerdekaan sejati harus diwujudkan dalam keadilan sosial, perlindungan hak asasi manusia, serta penghormatan terhadap perbedaan.
“Panjang umur, Republik Indonesia-ku,” tutup Gustika Jusuf dalam unggahannya dan mendoakan agar Republik Indonesia terus bertahan meski diguncang duka dan kekecewaan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!