Kamis, 4 Juni 2026

Arti Batik Slobog yang Dikenakan Gustika Jusuf di HUT RI ke-80 Simbol Duka dan Kritik Pedas untuk Republik

Photo Author
Nurul Huda, Sketsa Nusantara
- Selasa, 19 Agustus 2025 | 16:00 WIB
Gustika Jusuf mengenakan kebaya hitam dan batik slobog di HUT RI ke-80. (Instagram/gustikajusuf)
Gustika Jusuf mengenakan kebaya hitam dan batik slobog di HUT RI ke-80. (Instagram/gustikajusuf)

 

Sketsa Nusantara.id – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia menjadi momentum refleksi bagi banyak tokoh publik, termasuk Gustika Jusuf Hatta, cucu Wakil Presiden pertama RI Mohammad Hatta.

Melalui sebuah unggahan di media sosial, Gustika menyampaikan refleksi mendalam tentang kemerdekaan, hak asasi manusia (HAM), dan situasi politik Indonesia saat ini.

Dilansir SketsaNusantara.id dari keterangan di Instagram @gustikajusuf, Gustika mengenakan kebaya hitam bersama batik slobog, pilihan yang bukan sekadar estetika tetapi juga menyimpan pesan mendalam.

Baca Juga: Indra Bruggman Ungkap Kenapa Dirinya Terlihat Bule padahal Asli Orang Tasikmalaya, Ternyata Ini Penyebabnya…

Batik slobog bukanlah kain biasa. Dalam budaya Jawa, slobog berarti longgar atau terbuka. Biasanya, kain ini digunakan dalam tradisi berkabung, khususnya ketika mengiringi prosesi pemakaman. Filosofi slobog menggambarkan pelepasan, doa, dan pengantaran bagi mereka yang telah pergi agar mendapat jalan yang lapang. Bukan sekadar busana, melainkan simbol kesediaan untuk merelakan sekaligus mengiringi dengan doa.

Dengan mengenakan batik slobog di Hari Kemerdekaan ke-80, Gustika mengirimkan pesan simbolis.

“Motif slobog biasa dikenakan pada suasana duka… melambangkan pelepasan dan pengantaran. Ia biasa dipakai keluarga dalam prosesi pemakaman sebagai simbol merelakan sekaligus mendoakan jalan yang lapang,” tulisnya.

Baca Juga: 4 Rekomendasi Tempat Foto Aesthetic Buat Prewed Pasangan di Jember, Nomor 3 dan 4 Lebih Bernuansa Alam!

Gustika menyebut pilihan kain ini sebagai bentuk silent protest sekaligus cara mengekspresikan sisi kejawaan yang diwarisinya. Ia menyampaikan, pemakaian batik slobog adalah caranya untuk mengingatkan bahwa di tengah perayaan, bangsa ini masih menyimpan luka yang belum disembuhkan.

Dalam caption panjangnya, Gustika menulis bahwa rasa syukurnya atas kemerdekaan bercampur dengan keprihatinan mendalam. Ia menyinggung soal luka hak asasi manusia (HAM) yang belum tertutup bahkan kian parah.

“Bahkan kini kita dipimpin oleh seorang presiden penculik dan penjahat HAM, dengan wakil anak haram konstitusi,” tulisnya blak-blakan.

Ia juga menyinggung soal militerisasi yang semakin merasuk ke ruang sipil dan kecenderungan pemerintah melucuti hak-hak rakyat. Menurutnya, ada upaya menulis ulang sejarah bangsa dengan memutihkan dosa-dosa penguasa beserta kroninya. Situasi itu membuatnya sulit merayakan HUT RI ke-80 dengan sukacita penuh.

Meski begitu, Gustika menegaskan bahwa duka yang dirasakannya lahir dari cinta mendalam terhadap Republik. Berkabung, menurutnya, bukan berarti putus asa.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X