news

Peluncuran Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Siap Oktober-November 2025, 10 Jilid Buku dari Sukarno hingga Jokowi

Senin, 11 Agustus 2025 | 19:00 WIB
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menyebut bahwa peluncuran hasil penulisan sejarah Indonesia ditargetkan pada Oktober atau November 2025. (Instagram/@fadlizon)

SketsaNusantara.id - Peluncuran hasil penulisan ulang sejarah Indonesia ditargetkan berlangsung pada Oktober atau November 2025.

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyebut, jadwal tersebut bertepatan dengan momentum Hari Pahlawan dan menjadi bagian rangkaian peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia.

“Tahun ini, mudah-mudahan kita harapkan pada bulan Oktober atau November hari pahlawan itu,” ujar Fadli Zon kepada wartawan di Jakarta, Minggu 10 Agustus 2025.

Baca Juga: Buku Margono Djojohadikusumo resmi dirilis, Fadli Zon hingga Fahri Hamzah Ungkap Peran Pendiri BNI 1946

Ia menambahkan bahwa rencana tersebut juga disesuaikan dengan agenda besar perayaan kemerdekaan yang ke-80.

Sebelum peluncuran resmi, Fadli menjelaskan bahwa masih ada sejumlah tahapan penting yang harus diselesaikan.

Proses tersebut mencakup pembacaan ulang atau reading dan penyempurnaan naskah melalui seminar.

Baca Juga: Tak Ada Kaitannya dengan Ultah Prabowo! Fadli Zon Sebut Alasan Historis Soal Penetapan 17 Oktober Sebagai Hari Kebudayaan Nasional, Ini Penjelasannya

“Ada uji publik lalu sekarang ini sedang kita lakukan reading, mungkin ada dua sampai tiga kali lagi seminar untuk menjadikan buku ini semakin sempurna,” ujarnya.

Uji publik yang dimaksud telah dilaksanakan di empat perguruan tinggi dan terbuka untuk umum. Fadli mengatakan, masukan yang diperoleh sangat beragam dan memberikan nilai tambah bagi isi buku.

Menurutnya, tanggapan publik menjadi bagian penting dari penyusunan agar karya tersebut benar-benar komprehensif dan bermanfaat.

“Cukup banyak masukan yang menarik dan saya kira ini yang kita harapkan memang,” tuturnya.

Penulisan ulang sejarah ini melibatkan 112 sejarawan dari berbagai latar belakang. Ruang lingkup pembahasan mencakup periode kepemimpinan Presiden pertama, Sukarno, hingga Presiden ke-7, Joko Widodo (Jokowi). Proyek besar ini disusun menjadi 10 jilid buku dengan total ketebalan mencapai 5.500 halaman.

Fadli menekankan bahwa proses penulisan dilakukan secara independen oleh para sejarawan tanpa intervensi dari kementerian. “Kemenbud menyerahkan sepenuhnya kepada sejarawan,” pungkasnya.

Halaman:

Tags

Terkini