Para ahli biologi laut menyebut paus dan lumba-lumba sering terdampar ke daratan biasanya disebabkan karena cedera saat sakit, apalagi bagi paus yang sudah berusia tua.
Selain itu, cuaca buruk juga bisa mengakibatkan gangguan navigasi sehingga paus mengalami kebingungan dan kesulitan berkonsentrasi hingga tersesat usai terpisah dari kelompoknya.
Dalam kasus yang terjadi di Kamchatka, paus bisa saja terdampar karena adanya perubahan medan magnetik karena adanya getaran dari bunyi bawah air akibat pergerakan kapal nelayan atau gempa yang terjadi di laut.
Khususnya pada paus beluga, hewan laut ini memiliki gigi yang berfungsi untuk berburu dan membantu navigasi agar dapat mengikuti kelompoknya.
Namun, kebisingan akibat gempa bumi atau cuaca buruk bisa mengganggu sistem sonar dan kemampuan navigasi paus sehingga mereka bisa mengalami kebingungan, yang akhirnya tersesat hingga terdampar ke daratan.
Beberapa ilmuwan juga mengatakan bahwa paus bisa mendeteksi gelombang seismic rendah frekuensi (Rayleigh waves) yang disebut-sebut jadi naluri ilmiah terhadap bencana alam sebelum terjadi gempa besar.
Naluri ini bisa membuat mereka mencari tempat berlindung yang akhirnya menyebabkan mereka tersesat dan membawa sampai terdampar ke daratan.
Meski begitu, hingga kini belum ada bukti ilmiah bahwa paus yang terdampar tersebut benar-benar bisa "merasakan" akan terjadi gempa atau tsunami dan secara sadar menghindari bencana alam.
Faktanya, para ahli dalam berbagai jurnal ilmiah menyebut bahwa paus bisa terdampar karena kondisi normal seperti pasang surut atau kesalahan arah, bukan semata-mata karena menghindari bencana alam seperti gempa atau tsunami.
Sebagian besar ahli menganggap terdamparnya paus sebagai fenomena biologis yang umum terjadi dan tidak selalu berkaitan langsung dengan prediksi bencana alam.
Walau belum terbukti secara ilmiah bahwa paus bisa "merasakan" naluri terjadinya bencana, fenomena paus terdampar ini kembali mengundang diskusi tentang keterkaitan perilaku hewan dengan gejala alam yang membutuhkan riset lebih lanjut.
Publik juga menyebut kejadian ini yang menjadi pengingat tentang pentingnya memahami sinyal alam, sekaligus mendorong empati terhadap makhluk hidup lain yang ikut terdampak bencana. ***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini