SketsaNusnatara.id - Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan (Bunga Desaku) di Kecamatan Ambulu untuk menggali potensi wilayah, agar bisa meningkatkan ekonomi masyarakat.
Bupati Jember Muhammad Fawait, mengungkapkan bahwa acara tersebut merupakan langkah yang strategis untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya menjaga kebersihan tempat wisata dan mendukung ketahanan pangan.
"Di Kecamatan Ambulu, kami membuka hari ini dengan senam bersama siswa-siswa sekaligus menegaskan bahwa Watu Ulo adalah simbol pariwisata yang menjanjikan. Kami juga mengajak mereka untuk ikut menjaga kebersihan dengan melakukan aksi pengumpulan sampah," ungkapya, saat dikonfirmasi Senin, 28 Juli 2025.
Baca Juga: Kelangkaan BBM di Jember, Bupati Gus Fawait Keluarkan SE Siswa Bisa Belajar dari Rumah
Sebab, menjaga kebersihan wisata bukan hanya tugas pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab kita semua.
Dalam kesempatan itu, Bupati Jember juga menekankan pentingnya pembangunan ketahanan pangan melalui bidang peternakan.
Bupati santri pertama di Jember tersebut menegaskan bahwa, Jember harus siap menghadapi meningkatnya kebutuhan pangan, termasuk dalam mendukung program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang akan dilaksanakan di ratusan dapur umum.
"Saya sudah berbicara dengan Pak Sekda dan Kepala Dinas Peternakan bahwa ke depan kita perlu mengembangkan desa-desa tematik, seperti desa sapi atau desa kambing untuk menciptakan pusat ketahanan pangan lokal. Tetapi kita harus mulai dengan mendata populasi sapi di Jember agar kebijakan kita bisa tepat sasaran," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Jember Widodo Julianto mengungkapkan bahwa, populasi hewan ternak di Kabupaten Jember masih cukup besar meski sempat mengalami penurunan akibat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang terjadi beberapa waktu lalu.
"Dari sekitar 500 ribu sapi, kami memperkirakan terdapat penurunan sekitar 30 persen karena PMK. Oleh karena itu, kami mendorong percepatan kebuntingan dengan dua metode utama, yaitu Inseminasi Buatan (IB) dan Transfer Embrio (TE), yang juga telah dilakukan Bupati secara simbolis di lapangan," kata Widodo.
Widodo melanjutkan bahwa salah satu tantangan di lapangan adalah kurangnya sumber daya manusia untuk paramedik dan dokter hewan.
Saat ini, hanya tersedia sekitar 100 petugas yang melayani kebutuhan di 31 kecamatan. Ia berharap di masa mendatang akan ada penambahan tenaga ahli untuk mendukung layanan peternakan yang lebih baik.