SketsaNusantara.id - Wakil Ketua KONI Jember Soetriono menyampaikan bahwa Jember terus mengalami kemerosotan peringkat.
Mulai peringkat ke-9 pada 2022, peringkat ke-15 pada 2023, dan peringkat ke-20 pada 2025.
"Adanya efisiensi menjadi salah satu persoalan," ungkapnya.
Baca Juga: Dispora dan KONI Gelar Evaluasi Porprov Jatim 2025, Bonus Tunggu SK Bupati Jember
Akibatnya, mempengaruhi banyak fasilitas yang seharusnya diterima oleh para atlet, tapi tidak didapatkan.
Bahkan, jumlah Jember hanya mampu menerjunkan 252 atlet. Kalah jauh jika dibandingkan dengan Malang dan Surabaya yang mencapai ribuan.
Pada 2022, ada dana hibah yang digunakan para atlet selama empat bulan dengan dana hibah. Alhasil, dari peringkat ke-24, Jember melompat jadi peringkat ke-9.
"KONI ke depan harus menerima hibah agar pembinaan cabor bisa optimal. Hibah langsung atau Dispora, asal tidak menambrak regulasi," katanya. Selain itu, optimalisasi cabor perlu dilakukan.
"Ada beberapa cabor yang tak dapat medali, tapi tak saya sebutkan, padahal keduanya merupakan cabor unggulan," papar Prof Soetriono.
Sementara itu, Wushu seusai target. Realisasinya sesuai dengan target.
"Cabor sport juga demikian, ada yang tak memperoleh medali, nanti kami serahkan kepada pengurus baru. Bagaimana untuk mengatur itu," katanya.
Baca Juga: Pemkab Jember Hibahkan 47 Hektare Tanah ke Polda Jatim
Oleh karena itu, cabor dalam menentukan target harus belajar dari kekuatan cabor.
"Mereka harus bisa membandingkan dengan daerah lain. Sedangkan selisih target dan realisasi sejumlah cabor di Jember masih jauh," ungkapnya.