SketsaNusantara.id - Meningkatnya volume air Sungai Gileh di Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, dan Sungai Mayang di Dusun Biskit, Desa Sumberjati, Kecamatan Silo, pada Juni lalu masih menyisakan PR untuk warga setempat.
Tak cuma mengakibatkan kerusakan pada berbagai infrastruktur termasuk runtuhnya jembatan swadaya sepanjang 30 meter. Kerusakan ini juga terjadi pada fasilitas wisata biskit serta pada sistem penyediaan air bersih.
Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, dampak besar terlihat di Desa Sumberjati. Jaringan pipa air bersih sepanjang sekitar 1.500 meter hanyut.
Akibatnya, menyebabkan 2.955 penduduk di Dusun Karangkebon dan 2.910 penduduk di Dusun Krajan kesulitan untuk mendapatkan air bersih.
Selain itu, bencana tersebut juga menimbulkan kerusakan pada mushola, fasilitas kamar mandi wisata, serta sawah yang terendam air. Di sisi lain, Dusun Plalangan di Desa Sempolan juga mengalami dampak dengan total 630 penduduk yang merasakan kekurangan air bersih.
Kepala BPBD Jember Indra Tri Purnomo mengungkapkan bahwa hingga kini kondisi di sebagian besar area yang terdampak mulai membaik.
"Masyarakat telah mulai bergotong royong untuk membangun jembatan darurat dan membersihkan kawasan terdampak," ungkapnya.
Pendistribusian air bersih juga masih berlangsung dari berbagai pihak. Misalnya, BPBD Jember (91 ribu liter), cipta karya (50 ribu liter), PDAM (50 ribu liter), relawan Pandusiaga (23,6 ribu liter), serta PMI (6,6 ribu liter).
"PMI juga telah menyalurkan enam tandon air untuk memenuhi kebutuhan penduduk," ungkapnya.
Baca Juga: Pemkab Jember Hibahkan 47 Hektare Tanah ke Polda Jatim
Tak hanya itu, Indra juga menyebutkan bahwa pihaknya Bersama dengan instansi terkait juga menjalankan normalisasi Dam Kemisan, distribusi air bersih secara harian, dan pembersihan tandon permanen.
"Pemerintah mengusulkan agar pengadaan air bersih sementara dilanjutkan sampai sistem penyediaan air kembali beroperasi dengan baik," ucapnya.