Baca Juga: Menelisik Implementasi Kabupaten Layak Anak di Sumenep: Ketika Komitmen Pemerintah Dipertanyakan
Warganet ikut menandai akun Instagram Polres Sumenep dan Bupati Jember karena khawatir jika terjadi apa-apa dengan orang tua Badrus, mengingat proses pencarian dilakukan di pulau tak berpenghuni yang mungkin bisa terjadi sesuatu di luar dugaan.
"Ya Allah melas banget ini, sampe nangis aku lihatnya. Semoga diberi kesehatan dan selalu dalam lindungan Allah, semoga cepat ketemu anaknya... Mohon bantuannya @gus.fawait @polres_sumenep," komentar akun @dw*****a.
Sebagaimana diketahui, Badrus Sholeh mengikuti PKL dan berlayar di atas kapal Harapan Sri Jaya milik PT Pancuran Samudra Nusantara yang diberangkatkan dari pelabuhan Juwana, Pati, Jawa Tengah.
Badrus terakhir kali terlihat di kapal bersama teman-temannya pada hari Sabtu, 17 Mei 2025. Ia dilaporkan hilang pada hari Minggu, 18 Mei 2025 dan diketahui tak berada di kamarnya setelah sholat subuh.
Dugaan awal menyebut Badrus jatuh ke laut, tetapi tak ada saksi mata yang bisa memastikan kejadian ini.
Pihak sekolah juga sudah berkoordinasi dengan Sat Polaruid Polresta Pati untuk melakukan pencarian, tapi hasilnya nihil.
Sampai sekarang pun keberadaan Badrus masih jadi misteri. Kedua orang tuanya pun merasakan ada banyak kejanggalan seolah ada yang ditutup-tutupi.
Mulyadi, Ayah Badrus pernah diajak langsung ke perusahaan tempat Badrus magang dan melihat oleh tKP (tempat kejadian perkara) dalam proses penyidikan.
Namun, ia mengaku tak menerima copy atau surat dokumen resmi hasil penyelidikan. Ayah Badrus juga sempat disuruh menandatangani surat pernyataan untuk tidak menuntut apapun kepada pihak sekolah.
"Saya memang bukan orang berpendidikan, saya memang tidak paham banyak hal. Tapi, dari pemerintah tak ada yang mendampingi selama ini, padahal pemberitaan di media dan televisi nasional sudah banyak, apa karena kami ini orang kecil," ucap Mulyadi.
"Kalau memang anak saya hidup, di mana dia sekarang? Kalaupun anak saya sudah meninggal, saya ikhlas, tapi di mana jasadnya? sampai saat ini kami tidak memperoleh kejelasan, dan banyak kejanggalan yang kami rasakan dari hilangnya anak kami, imbuh Nur Hasanah.