news

Resiko Turbulensi hingga Tebing Curam, Ini Jawaban Mengapa Helikopter Tim SAR Tak Bisa Menjangkau Juliana Marins

Kamis, 26 Juni 2025 | 18:30 WIB
Ilustrasi penggunaan helikopter untuk rescue gunung (film Everest) (Universal Pictures)

Kabut ini disebut sangat membatasi jarak pandang pilot, membuat manuver helikopter di dekat tebing atau jurang menjadi sangat berbahaya.

Baca Juga: Sederet Fakta Mengejutkan Terkait Kasus WNA Brasil yang Terjatuh di Gunung Rinjani, Juliana Marins Baru Pertama Kali Mendaki Gunung?

Di area pegunungan tinggi seperti Gunung Rinjani, angin bisa sangat kencang dan tidak stabil, menyebabkan turbulensi.

Sehingga kondisi ini sangat membahayakan helikopter, terutama saat harus terbang rendah atau diam di satu titik untuk evakuasi.

Mengingat kondisi jurang yang tak memungkinkan itulah, diputuskan metode yang paling aman dan memungkinkan adalah vertical rescue (penyelamatan vertikal) dengan teknik tali-temali. 

Dimana tim SAR harus turun langsung ke dasar jurang, kemudian mengevakuasi korban dengan sistem penarikan tali dan ini adalah prosedur standar internasional untuk medan serupa.

Hal ini menunjukkan, meskipun penggunaan helikopter seringkali menjadi harapan pertama dalam evakuasi cepat, dalam kasus Juliana Marins di jurang Rinjani, faktor medan, cuaca, dan keterbatasan operasional helikopter secara kolektif membuat opsi ini tidak memungkinkan atau terlalu berisiko tinggi. 

Untuk itu Tim SAR akhirnya memilih metode yang paling aman dan efektif, meskipun membutuhkan waktu dan upaya yang sangat besar.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini

Halaman:

Tags

Terkini