Kabut ini disebut sangat membatasi jarak pandang pilot, membuat manuver helikopter di dekat tebing atau jurang menjadi sangat berbahaya.
Di area pegunungan tinggi seperti Gunung Rinjani, angin bisa sangat kencang dan tidak stabil, menyebabkan turbulensi.
Sehingga kondisi ini sangat membahayakan helikopter, terutama saat harus terbang rendah atau diam di satu titik untuk evakuasi.
Mengingat kondisi jurang yang tak memungkinkan itulah, diputuskan metode yang paling aman dan memungkinkan adalah vertical rescue (penyelamatan vertikal) dengan teknik tali-temali.
Dimana tim SAR harus turun langsung ke dasar jurang, kemudian mengevakuasi korban dengan sistem penarikan tali dan ini adalah prosedur standar internasional untuk medan serupa.
Hal ini menunjukkan, meskipun penggunaan helikopter seringkali menjadi harapan pertama dalam evakuasi cepat, dalam kasus Juliana Marins di jurang Rinjani, faktor medan, cuaca, dan keterbatasan operasional helikopter secara kolektif membuat opsi ini tidak memungkinkan atau terlalu berisiko tinggi.
Untuk itu Tim SAR akhirnya memilih metode yang paling aman dan efektif, meskipun membutuhkan waktu dan upaya yang sangat besar.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini