news

Resiko Turbulensi hingga Tebing Curam, Ini Jawaban Mengapa Helikopter Tim SAR Tak Bisa Menjangkau Juliana Marins

Kamis, 26 Juni 2025 | 18:30 WIB
Ilustrasi penggunaan helikopter untuk rescue gunung (film Everest) (Universal Pictures)

SketsaNusantara.id - Sejumlah kritikan pedas langsung mengarah kepada Tim Serve and Rescue (SAR) yang ada Rinjani ketika tragedi jatuhnya Juliana Marins ke jurang di Gunung Rinjani.

Jatuhnya Juliana Marins ke kedalaman 600 meter dengan tebing curam sangat menyulitkan tim penyelamat hingga terkesan lambat dalam penanganan.

Meski Basarnas dengan tim gabungan SAR  menyatakan menyediakan 3 helikopter untuk misi penyelamatan ini namun pada akhirnya helikopter itu hanya bisa digunakan memindahkan jenasah Juliana dari Sembalun ke RS untuk autopsi.

Baca Juga: Belajar dari Kasus Juliana Marins di Gunung Rinjani, Warganet Sarankan Pemerintah Gunakan Drone untuk Misi Penyelamatan di Area Wisata Beresiko Tinggi

Sedangkan untuk mengangkat jenasah Juliana, tim penyelamat tetap harus melakukannya dengan manual.

Mengapa helikopter tak bisa dipakai? pertanyaan ini ada di benak setiap orang awam yang merasa keberatan helikopter telah sia-sia dan hal ini dijawab oleh Rahman Mukhlis sebagai ketua Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI).

"Medan Rijani khusus dari Plawangan Sembalun dari camp terakhir menuju ke puncak itu ekstrim, kerikil, berbatu dengan kecuraman yng cukup tinggi ditambah cuaca, sangat menghambat," tegas Rahman Mukhlis dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Metro TV.

Baca Juga: 9 Kasus Pendaki Terjatuh hingga Hilang di Gunung Rinjani, Terbaru WNA Brasil yang Terperosok ke Danau Sagara Anak

"Sedangkan helikopter ketika menjangkau tebing dan mendarat ke arah sana di khawatirkan turbulensi dan itu mengakibatkan resiko,"imbuhnya.

"Ditambah juga cuaca dan angin yang buruk sehingga itu tak memungkinkan," imbuhnya lagi.

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa Juliana terjatuh di jurang dengan kedalaman mencapai 600 meter dengan kondisi dinding jurang sangat curam, berpasir, dan berbatu, membuat pendekatan dengan helikopter sangat berisiko.

Baca Juga: Belajar dari Kasus Meninggalnya Juliana Marins di Rinjani, Inilah Daftar Do dan Don't Saat Pendakian Gunung Agar Kamu Kembali Pulang dengan Selamat

Ditambah tidak ada area datar yang cukup luas dan aman di dasar atau di sisi jurang yang bisa digunakan helikopter untuk mendarat atau melakukan hovering (terbang diam di satu titik) dengan stabil.

Sedangkan pada saat itu, Gunung Rinjani sering diselimuti kabut tebal, terutama di ketinggian atau saat terjadi perubahan cuaca.

Halaman:

Tags

Terkini