Namun, ide ini tidak lepas dari kritik. Salah satu hambatan utama adalah biaya, terlebih anggaran untuk respons bencana di Indonesia terkena dampak efisiensi pada tahun 2025.
Beberapa warganet juga pesimis dana untuk pembelian drone ini mungkin tidak tersedia karena pemerintah lebih fokus pada program lain, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), dan juga terkendala terkena praktik korupsi yang kini makin marak dilakukan pejabat negara.
"Gimana mau beli, uang anggarannya buat MBG alias Makan Biskuit Gratis. Tidak menafikan tim SAR sudah kerja keras, tapi juga butuh kerja cerdas. Negara ini harus belajar dari kesalahan dan cari solusi karena pendekatan manusia terbatas dan beresiko tinggi jadi pertimbangkan pakai teknologi," komentar akun X @ilhampid.
"Saya juga benci pemerintah yang korup bisa bikin negara gak maju-maju, tapi kita juga jangan bodoh, drone dengan cuaca buruk seperti di Rinjani agak berbahaya dan bisa jatuh apalagi kena angin kencang," imbuh akun @dengopii.
Teknologi drone memang menawarkan potensi besar untuk meningkatkan operasi SAR, terutama di medan ekstrem seperti Gunung Rinjani.
Studi tentang drone untuk SAR, seperti yang dilakukan oleh FlytBase dengan drone berbasis AI untuk deteksi manusia, menunjukkan bahwa teknologi ini bisa sangat efektif dalam kondisi tertentu.
Namun, tantangan seperti kabut tebal atau angin kencang, yang sering terjadi di Rinjani dan Gunung berapi aktif lainnya juga tetap harus dipertimbangkan.
Tragedi Juliana Marins menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia untuk mengikuti perkembangan zaman dengan mengadopsi teknologi seperti drone, tetapi juga harus realistis dengan keterbatasannya karena kondisi di lapangan yang tak menentu.
Pemerintah perlu menyeimbangkan prioritas anggaran antara program seperti MBG dan kebutuhan mendesak seperti SAR. Selain itu, investasi dalam pelatihan tim SAR dan infrastruktur penyelamatan tetap penting, karena drone tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam kondisi tertentu.
Dengan demikian, meskipun ide drone berat menjanjikan, implementasinya di Indonesia memerlukan perencanaan matang, dukungan kebijakan yang kuat, dan pengawasan yang ketat untuk memastikan dana tidak disalahgunakan.
Tragedi Juliana Marins menjadi pengingat bahwa teknologi harus bekerja bersama dengan upaya manusia untuk mencapai hasil yang optimal dalam operasi penyelamatan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sinil