SketsaNusantara.id - Warga X beri peringatan SOS atau sinyal bahaya tentang kondisi kritis masyarakat di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.
Sudah 4 bulan, Pulau Enggano yang menampung sekitar 4.000 jiwa penduduk terisolasi dari wilayah luar akibat berhentinya kapal angkutan dan barang berlabuh di pulau tersebut.
Akibatnya, warga tidak bisa mengirimkan hasil panen mereka untuk dijual ke kota-kota. Perekonomian setempat anjlok hingga masyarakatnya mengalami krisis besar.
Hal ini disebabkan oleh pendangkalan yang terjadi di pelabuhan Pulau Baai Bengkulu, sehingga menyebabkan transportasi laut menuju Pulau Enggano terganggu.
Peringatan tersebut ditulis dalam cuitan yang diunggah oleh akun @Dandhy_Laksono pada tanggal 19 Juni 2025.
“Sudah 4 bulan pulau berpenduduk 4.000 jiwa ini terisolasi. Orang sakit, pasokan sembako, dan ekonomi lokal, pelan-pelan sekarat. Hasil panen membusuk,” ujarnya dikutip oleh SketsaNusantara.id.
Saat ini, warga Pulau Enggano pasrah menanti proses pengerukan alur selesai selagi mendesak pemerintah setempat untuk mengirimkan kapal alternatif yang membantu mendistribusikan hasil bumi atau membawa warga yang kritis.
Per pekan pertama Juni 2025, pelabuhan belum juga normal dan hanya bisa melayarkan Kapal Ferry Pulo Tello ke pulau tersebut untuk membawa ratusan penduduk menuju kota.
Sementara itu beberapa warga lainnya harus mengerahkan uang hingga Rp20 juta untuk menyewa jasa nelayan yang akan membawa hasil bumi mereka ke kota.
Akan tetapi, dengan kondisi ekonomi yang semakin buruk, tidak semua mampu membayar uang dengan nominal sebesar itu dan terpaksa membiarkan panen mereka membusuk di pekarangan.
Padahal, masyarakat Enggano sangat bergantung pada hasil kebun sebagai mata pencaharian utama mereka.