Minggu, 19 Juli 2026

Darurat di Pulau Enggano: Transportasi Laut Terputus, Warga Enggano Bengkulu 4 Bulan Terisolasi dan Hadapi Krisis Ekonomi Anjlok

Photo Author
Dinzha Fairrana Atsir, Sketsa Nusantara
- Jumat, 20 Juni 2025 | 09:18 WIB
Ilustrasi, warga Pulau Enggano terisolasi selama 4 bulan hingga ekonomi anjlok karena tak bisa jual hasil bumi ke kota. (Instagram/@pulau.enggano dan freepik/wirestock)
Ilustrasi, warga Pulau Enggano terisolasi selama 4 bulan hingga ekonomi anjlok karena tak bisa jual hasil bumi ke kota. (Instagram/@pulau.enggano dan freepik/wirestock)

 

SketsaNusantara.id - Warga X beri peringatan SOS atau sinyal bahaya tentang kondisi kritis masyarakat di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.

Sudah 4 bulan, Pulau Enggano yang menampung sekitar 4.000 jiwa penduduk terisolasi dari wilayah luar akibat berhentinya kapal angkutan dan barang berlabuh di pulau tersebut.

Akibatnya, warga tidak bisa mengirimkan hasil panen mereka untuk dijual ke kota-kota. Perekonomian setempat anjlok hingga masyarakatnya mengalami krisis besar.

Baca Juga: Perjanjian Helsinki dan Peran Jusuf Kalla: Kunci Penyelesaian Polemik 4 Pulau Aceh dan Sumatera Utara

Hal ini disebabkan oleh pendangkalan yang terjadi di pelabuhan Pulau Baai Bengkulu, sehingga menyebabkan transportasi laut menuju Pulau Enggano terganggu.

Peringatan tersebut ditulis dalam cuitan yang diunggah oleh akun @Dandhy_Laksono pada tanggal 19 Juni 2025.

“Sudah 4 bulan pulau berpenduduk 4.000 jiwa ini terisolasi. Orang sakit, pasokan sembako, dan ekonomi lokal, pelan-pelan sekarat. Hasil panen membusuk,” ujarnya dikutip oleh SketsaNusantara.id.

Baca Juga: Disebut sebagai Bapak Perdamaian, Gubernur Aceh Temui Jusuf Kalla Usai 4 Pulau Dikembalikan Pada Aceh

Saat ini, warga Pulau Enggano pasrah menanti proses pengerukan alur selesai selagi mendesak pemerintah setempat untuk mengirimkan kapal alternatif yang membantu mendistribusikan hasil bumi atau membawa warga yang kritis.

Per pekan pertama Juni 2025, pelabuhan belum juga normal dan hanya bisa melayarkan Kapal Ferry Pulo Tello ke pulau tersebut untuk membawa ratusan penduduk menuju kota.

Sementara itu beberapa warga lainnya harus mengerahkan uang hingga Rp20 juta untuk menyewa jasa nelayan yang akan membawa hasil bumi mereka ke kota.

Akan tetapi, dengan kondisi ekonomi yang semakin buruk, tidak semua mampu membayar uang dengan nominal sebesar itu dan terpaksa membiarkan panen mereka membusuk di pekarangan.

Padahal, masyarakat Enggano sangat bergantung pada hasil kebun sebagai mata pencaharian utama mereka.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X