Pihaknya menyebut ada 3 alasan utama penutupan jalur pendakian yang dijuluki "punggungan naga" oleh para pendaki.
1. Topografi Berbahaya: Medan Curam, Kanan Kiri Jurang
Pertama, akses menuju ke lokasi ketiga gunung sangat berbayaya karena memiliki topografi medan yang sulit dilalui.
"Jalur pendakian ini memiliki topografi berbahaya dengan tebing curam dan kanan kirinya jurang sehingga akses menuju lokasi sulit dilalui," tulis Perhutani dalam surat edaran yang diunggah akun Instagram @polsek_grujugan dikutip SketsaNusantara.id pada hari Kamis, 8 Mei 2025.
Sebagai informasi, Jalur pendakian menuju puncak Gunung Saeng, Piramid, dan Gulgulan memiliki medan ekstrem dengan kemiringan 50-60 derajat, tebing curam di kanan-kirinya, dan kontur tanah berpasir yang licin.
Akses yang sulit menjadikan Gunung Saeng memiliki sedikit pos pendakian yang menambah kekhawatiran risiko kecelakaan.
2. Menjaga Ekosistem Kawasan Hutan Lindung
Alasan kedua penutupan jalur pendakian karena ketiga gunung ini terletak di petak 23-1 RPH Curahdami dan RPH Wringin Tapung, yang merupakan kawasan hutan lindung.
"Kawasan Gunung Saeng, Pyramide, dan Gulgulan merupakan satu kesatuan pegunungan Lereng Yang Timur Laut, berada di kawasan hutan lindung," tulis PKH Bondowoso di surat edarannya.
Oleh karena itu, aktivitas pendakian di ketiga pegunungan ini tidak lagi diizinkan karena dapat mengganggu ekosistem hutan lindung.
3. Bukan Tempat Wisata Resmi
Gunung Saeng, Piramid dan Gulgulan menjadi populer dan ramai dibicarakan di media sosial karena keindahan panorama alamnya.
Pendaki bisa merasakan berada di atas awan dan menikmati sunrise atau sunset di puncak gunung disuguhi keindahan alam memukau.