Hingga pada suatu hari mereka bertiga berangkat untuk melakukan perjalanan dari arah Rembang, Jawa Tengah.
Mereka berjalan selama berhari hari sampai berbulan bulan keluar masuk, dari daerah yang satu ke daerah yang lain sambil berdakwah agama Islam.
Akhirnya tetelah sekian lama diperjalanan, ketiganya di wilayah Surabaya atau lebih tepatnya di daerah Jagir (sekarang Wonokromo).
Mereka bertiga menetap beberapa bulan disana sambil bersilaturahmi ke pesantren Ampel, Giri serta pesantren lainnya.
Lebih lanjut, ketiga orang tersebut melanjutkan perjalanannya ke arah timur dimana Raden Bakat menuju ke utara Pantai Madura.
Sedangkan Buyut Halim tinggal di daerah Gumuk Pakel serta membuat gubuk kecil untuk berlindung.
Raden Bakat yang kembali melanjutkan perjalanan bersama keluarganya diketahui hendak melintasi sebuah (kini bernama sungai pelabuhan utara pahlawan Kalisat).
Baca Juga: Dispendukcapil Jember Beroperasi Usai Lebaran, Jumlah Warga yang Mengurus Adminduk Melonjak
Saat itu, sungai dalam kondisi banjir dan Raden Bakat menancapkan tongkatnya dengan tujuan agar mencegah air tidak sampai ke tempat mereka.
Sembari menunggu sungainya kecil, pada keesokan paginya atau sungai yang awalnya banjir itu bisa surut.
Istri Raden Bakat atau Nyi Genduk yang waktu itu hendak mencuci pakaian ke sungai pun segera kembali ke tempat suaminya.
Sebelum sampai ke tempat, Nyi Genduk berpapasan dengan sang suami dan menjelaskan kepada Raden Bakat tersebut.