"Beliau ini nggak cuma anti kritik tapi civil phobia juga ternyata. Banyak mahasiswa dan aktivis yang turun ke jalan sampai berdarah-darah pas demo dan pure niatnya sampaikan aspirasi, eh malah dituduh dibayar," sindir salah satu netizen di X.
Lantas, apa itu civil phobia? Apa hubungan istilah ini dengan perkataan Prabowo Subianto soal demo yang dinilai "bayaran"?
Dilansir SketsaNusantara.id dari akun Instagram @the_mentalhealthdoc, phobia sendiri diartikan sebagai suatu gangguan kecemasan yang dapat menyebabkan orang merasa khawatir tentang situasi sosial di sekitarnya.
Dalam hal ini, istilah "civil phobia" yang dilontarkan warganet merujuk pada dugaan ketakutan atau keengganan Prabowo terhadap gerakan masyarakat sipil yang kritis terhadap pemerintahannya.
Istilah ini bukanlah istilah resmi dalam psikologi atau politik, melainkan ungkapan populer yang digunakan netizen untuk menggambarkan sikap pejabat yang tampak alergi atau takut terhadap kritik dan aksi masyarakat sipil.
Dalam konteks ini, "civil phobia" dikaitkan dengan pernyataan Prabowo yang seolah meragukan niat murni demonstran untuk menyuarakan kritik dan malah mencurigainya sebagai aksi "demo bayaran".
Civil Phobia juga sebelumnya jadi trending topic di media sosial X di tengah penolakan RUU TNI. Istilah ini merujuk pada ketakutan para pemangku kepentingan terhadap kritik, bahkan sampai menganggapnya sebagai ancaman bagi negara.
Kekhawatiran ini terasa nyata, terutama ketika muncul dugaan teror terhadap jurnalis sebagai bentuk intimidasi kepada media yang mengkritisi kebijakan pemerintah.
Warganet juga menolak lupa dan mengaitkan civil phobia Presiden dengan pernyataan mantan Menteri Riset dan Teknologi, Satryo Brodjonegoro, yang pernah menyebut Prabowo "alergi demo".
Satryo menjelaskan perkataan Seskab Teddy yang menyebut Presiden alergi demo yang dianggap bisa memicu kerusuhan dan membuat gaduh suasana.
Banyak netizen merasa kecewa, bahkan ada yang mengaku sakit hati, setelah Prabowo menyebut aksi demo diduga bayaran.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Presiden belum siap menerima kritik. Padahal suara dari masyarakat itu penting demi menciptakan keadilan, kesejahteraan, dan masa depan negara yang lebih baik.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini