news

Waton Tak Pernah Padam! Demi Cagar Budaya Jember, Parade Pegon dan Kenduren Khidmat Tetap Terlaksana di Tengah Minimnya Anggaran

Senin, 7 April 2025 | 21:19 WIB
Kenduren di tengah Parade Pegon ada doa khusyuk dan semangat lestari tanpa anggaran di Parade Budaya Waton Jember (SketsaNusantara.id/ Zuhana Anibuddin Zuhro)

SketsaNusantara.id – Di tengah keterbatasan, semangat warga Sumberejo, Kecamatan Ambulu, tak pernah surut dalam melestarikan tradisi leluhur mereka.

Parade Watu Ulo Pegon atau yang lebih dikenal dengan Waton kembali digelar pada Minggu 7 April 2025, meski tahun ini tanpa suntikan anggaran dari Pemerintah Kabupaten Jember. Namun, semangat yang terpancar dari raut wajah para peserta dan warga justru terasa lebih hangat dan membumi.

Mulai dari Balai Desa Sumberejo, iring-iringan 36 pegon yang ditarik 71 ekor sapi berbagai jenis — dari PO hingga Limosin — melaju perlahan menuju Pantai Watu Ulo.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Tanaman Pinang, Pohon yang Konon Jadi Asal-Usul Jember Sudah Ada Sejak Zaman Purbakala hingga Dipercaya Bisa Mendatangkan Kemakmuran

Sejak pukul 07.30 pagi, mereka menyusuri jalur sepanjang enam kilometer dengan penuh kesungguhan. Dekorasi pegon yang sederhana justru menjadi cermin dari kehidupan sehari-hari: mengangkut hasil bumi, membantu pembangunan, menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut desa.

Puncaknya adalah kenduren, tasyakuran yang berlangsung khidmat di tengah lingkaran doa bersama.

Hidangan khas seperti ketupat, lontong, lepet, dan ayam ingkung disajikan, bukan sebagai jamuan semata, tetapi sebagai simbol syukur dan harapan. Semua disantap bersama, menyatukan peserta, panitia, dan pengunjung dalam satu rasa: rasa memiliki terhadap budaya yang diwariskan sejak 1980-an.

Baca Juga: Dari Pegawai Kolonial hingga Raja Perkebunan, Sepenggal Kisah George Birnie dan Sejarah Lahirnya Jember Modern

Koordinator Waton, Syamsul Arifin, menyebut bahwa parade ini lebih dari sekadar seremoni tahunan.

"Ini bukan hanya acara, ini warisan. Dan warisan tidak menunggu anggaran. Ia hidup dari semangat yang diwariskan," ujarnya.

Meskipun hanya satu hiburan Reog Ponorogo yang ditampilkan, tak ada keluhan dari warga. Semua disepakati bersama, didanai secara swadaya, dan dijalankan dengan kesadaran kolektif. Bahkan, dengan tidak adanya agenda padat, momen doa bisa dilakukan lebih lama dan lebih khusyuk.

Baca Juga: Asal-Usul Jembatan Paling Unik di Jember, Dulu Hutan Kini Disulap Jadi Tempat Terindah Saat Mode Malam! Sempat Cuma Bisa Dilewati Sepeda?

Harapan besar tetap menggantung, agar Pemkab Jember kembali melihat Waton sebagai bagian penting dari identitas budaya lokal.

"Ini bukan milik kami saja, ini milik Jember. Cagar budaya ini layak didukung," tambah Syamsul.

Halaman:

Tags

Terkini