"Mungkin saja kalau gas di bawah sudah habis, maka semburannya berhenti atau gas masih ada tapi tekanannya terlalu kecil sehingga nggak kuat mengangkat sampai ke atas," kata Prof. Amien Widodo pada hari Jumat, 14 Maret 2025.
Namun, Prof. Amien juga menekankan bahwa belum dapat dipastikan apakah penghentian semburan ini merupakan pertanda baik atau buruk.
Peneliti senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS itu menyarankan agar masyarakat tetap tenang namun waspada dan tidak berspekulasi berlebihan tanpa data ilmiah yang akurat.
"Mudah-mudahan ini pertanda baik, kita positif thinking saja. Karena awalnya dulu ada gas yang tekanannya besar di bawah lalu sekarang sudah mulai berkurang, tekanan mengecil, atau mulau tertutup lumpur yang mengeras," tuturnya.
Semburan lumpur Lapindo pertama kali terjadi pada 29 Mei 2006 di area pengeboran gas milik PT Lapindo Brantas dan mengakibatkan semburan lumpur panas yang menenggelamkan 16 desa dan 30 pabrik di 3 kecamatan di Sidoarjo.
Lebih dari 60.000 warga terpaksa mengungsi, karena kampung halaman mereka tidak lagi layak huni terkena dampak lumpur Lapindo yang kini tingginya mencapai 12 meter.
Penyebab utama semburan lumpur Lapindo masih menjadi perdebatan hingga kini. Dugaan kuat semburan lumpur disebabkan oleh aktivitas pengeboran eksplorasi gas Blok Brantas oleh PT Lapindo Brantas.
Baca Juga: Terbentuk karena Bencana? Intip Keindahan Wisata Terindah di Kediri dengan Ketinggian 860 Mdpl
Kesalahan prosedur, seperti pemasangan casing yang tidak tepat, menyebabkan pecahnya formasi sumur dan keluarnya lumpur ke permukaan.
Sejak terjadinya bencana tersebut, proses ganti rugi bagi korban berjalan lambat dan berlarut-larut. Banyak warga yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.
Bahkan hingga hampir 2 dekade lumpur ini keluar, para korban terdampak belum mendapatkan kompensasi yang layak. Meskipun pemerintah dan PT Lapindo Brantas telah menjanjikan ganti rugi, realisasinya seringkali tidak sesuai harapan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini