Selain itu, kontroversi seputar akun Kaskus Fufufafa yang dikenal kerap mengunggah komentar dengan kata-kata tak pantas bernada hinaan dan pelecehan juga seolah-olah hilang ditelan waktu.
Komentar akun Fufufafa yang bernada hinaan dan pelecehan, tak kunjung diselidiki dan tidak mendapatkan sanksi yang setara sehingga pemerintah terkesan melindungi Gibran yang notabene adalah anak Jokowi yang kala itu masih menjabat sebagai Presiden RI.
Hal ini menunjukkan inkonsistensi dalam menilai kritik dan ujaran kebencian, terutama ketika pelakunya berasal dari latar belakang berpengaruh.
Kritik terhadap Prabowo dan Gibran dalam bentuk satir bisa dianggap sebagai respons masyarakat terhadap ketidakadilan dan pelanggaran yang terjadi.
Namun, untuk menjamin diskursus publik yang sehat, penting untuk membedakan antara kritik yang konstruktif dan ujaran kebencian.
Baca Juga: Apa Nama Akun Tiktok yang Bakar Buku Najwa Shihab? Netizen: Segini Kualitasnya
Berkaca pada kejadian ini, masyarakat perlu memahami bahwa menyampaikan kritik karena ketidakpuasan pemerintah bukanlah suatu kejahatan karena menjadi bagian dari demokrasi yang sehat, selama disampaikan dengan cara yang tidak merendahkan martabat orang lain dan sesuai dengan fakta yang terbukti jelas kebenarannya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Sejak 2013, Klaster Usaha Manggis di Bali Makin Laris Didorong Program Pemberdayaan BRI
Inilah Alasan Mengapa Gibran Rakabuming Raka Pulang Duluan dari Akmil Magelang, Ternyata Menghadiri Kegiatan Ini
Gempa Bali 4,4 Magnitudo Guncang Kuta Selatan, Warga Diimbau Tetap Waspada
Adu Pendidikan Najwa Shihab vs Nikita Mirzani, Ada yang Pernah Nyantri di Pesantren, Siapa?
Polemik Karangan Bunga Satir BEM FISIP Unair yang Dianggap Penghinaan pada Presiden, Netizen Ungkit Perkataan Prabowo soal Etika
Breaking News! Prof. Bagong Suyanto Cabut SK Pembekuan BEM Fisip UNAIR