Minggu, 19 Juli 2026

Kritik BEM FISIP Unair pada Prabowo-Gibran dalam Karangan Bunga Viral Jadi Perdebatan di Medsos, Ini Perbedaan Satir Vs Ujaran Kebencian

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Senin, 28 Oktober 2024 | 16:30 WIB
Potret karangan bunga dari BEM FISIP Unair yang menuai perdebatan hingga disebut penghinaan pada Prabowo-Gibran (Instagram/bemfisipunair)
Potret karangan bunga dari BEM FISIP Unair yang menuai perdebatan hingga disebut penghinaan pada Prabowo-Gibran (Instagram/bemfisipunair)

SketsaNusantara.id - Belakangan ini, karangan bunga dari Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM FISIP Unair yang ditujukan kepada Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka jadi polemik di tengah masyarakat hingga memicu kontroversi.

Dalam karangan bunga yang viral di media sosial, Prabowo disebut sebagai "jenderal bengis," sementara Gibran dilabeli "admin Fufufafa."

Penyebutan ini tidak hanya mencerminkan kritik, tetapi juga memunculkan perdebatan di media sosial.

Baca Juga: Tidak Layak Jadi Anggota Polri! Kapolda NTT Beberkan Kronologi Pemecatan Ipda Rudy Soik, Bukan karena Ungkap Mafia BBM?

Ucapan dalam karangan bunga BEM FISIP Unair dinilai menghujat dan melontarkan ujaran kebencian yang termasuk penghinaan pada pemimpin negara.

Selain itu, ucapan satire tersebut juga dinilai melewati batas dan bukan sekadar ucapan satir yang mengkritik pemerintah.

Lantas, apa perbedaan perkataan satire dengan ujaran kebencian? Benarkah ucapan yang dilontarkan BEM FISIP Unair dikatakan sebagai penghinaan ketimbang kritik pada pemerintah?

Baca Juga: Vonis Makin Berat! Skandal Korupsi Emas Antam Seret Nama Budi Said dan Para Mantan Pejabat

Dilansir SketsaNusantara.id dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), satire merupakan gaya bahasa yamg digunakan  untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang.

Satire adalah bentuk kritik yang menggunakan humor, ironi, atau sindiran untuk mengeksplorasi dan mengecam kebijakan atau perilaku tertentu.

Dalam konteks ini, BEM FISIP Unair menggunakan satire untuk menyoroti masalah pelanggaran HAM dan kurangnya respons pemerintah terhadap isu-isu penting yang terjadi di Indonesia.

Baca Juga: Semangat Sumpah Pemuda, Gus Fawait Ajak Pemuda Jember Bangkit dan Mengajak Generasi Muda Membawa Perubahan Nyata

Kritik yang disampaikan melalui karangan bunga mencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap tindakan pemerintah yang dianggap abai.

Tentu hal ini berbeda dengan ujaran kebencian atau hujatan, seperti komentar netizen yang ramai dilontarkan di media sosial.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X