Untuk menaikkan kapasitas produksi, Sritex kemudian mendirikan pabrik tenun pertamanya pada 1982.
10 Tahun kemudian, Sritex memperluas pabriknya dengan 4 lini produksi (pemintalan, penenunan, sentuhan akhir dan busana) dalam 1 atap.
Namanya pun kian dikenal di kancah nasional hingga dipercaya membuat seragam militer untuk NATO dan tentara Jerman pada 1994.
Proyek tersebut pun menjadi langkah awal ekspansi Sritex ke pasar internasional.
Saat terjadi krisis moneter pada 1998, Sritex berhasil ‘selamat’ bahkan bisa melipatgandakan pertumbuhannya hingga 8 kali pada tahun 2001.
Sritex pun mengukuhkan namanya di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013 dengan kode sahar SRIL.
Sayangnya, keuangan Sritex mulai goyah terutama saat terjadi pandemi pada 2019 silam.
Sritex mengurangi produksi yang membuat harga sahamnya menurun signifikan pada 2021 lalu.
Selain itu, Sritex juga terlilit hutang yang cukup besar hingga melebihi total aset perusahaan yang kemudian menjadi salah satu penyebab bangkurtnya raksasa tekstil tersebut.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Pertaruhkan Kepemimpinan, Prabowo Minta Menterinya Angkat Kaki dari Kabinet jika Tidak Setuju Program Makan Bergizi Gratis
5 Fakta Penangkapan Hakim PN Surabaya yang Diduga Terima Suap agar Memberikan Vonis Bebas Ronald Tannur
Siapa Menteri Terkaya di Kabinet Merah Putih? Ini Deretan Mobil Mentereng Sakti Wahyu Trenggono, Menteri KKP
Profil Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Terkaya di Kabinet Merah Putih, Lebih Kaya dari Presiden Prabowo?
Presiden Prabowo Subianto Menggembleng Jajaran Kabinet Merah Putih di Akmil Magelang, Ini 5 Bocoran Agendanya
Ingin Beli Tiket Pertandingan Timnas Indonesia? Inilah Syarat dan Cara untuk Mendaftar Garuda ID