“Krisis pangan juga akan berdampak kepada permasalahan sosial dan politik. Kasus ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun telah terjadi juga di luar negeri seperti Amerika,” imbuhnya.
Baca Juga: Temukan 22.735 Pemilih Satu KK Beda TPS, Bawaslu Sidoarjo Segera Minta KPU Tindaklanjuti
Oleh karena itu Kementerian Pertanian melakukan program strategis untuk meminimalisir kasus yang terjadi.
Program tersebut diantaranya optimalisasi lahan rawa 400 ribu hektar, pompanisasi sawah tadah hujan 1 juta hektar, transformasi pertanian tradisional menuju modern.
Selain itu juga pengembangan pertanian modern, peningkatan kompetensi SDM pertanian, penguatan pendampingan penyuluh pertanian serta regenerasi petani.
Baca Juga: Usai Tahapan Coklit Data Pemilih Pilkada Serentak 2024, KPU Kota Madiun Temukan 1.368 Pemilih TMS
Menanggapi hal tersebut, Dr. Fendi Setyawan, S.H., M.H. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, menyatakan perlunya Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani antar beberapa Fakultas Pertanian dari berbagai perguruan tinggi khususnya di wilayah timur Indonesia.
“Dengan adanya konferensi dalam forum seperti ini pasti ada banyak update secara keilmuan scientific, dalam bidang ilmu yang relatif linier. Sehingga kolaborasi ini ke depan agar lebih jauh direalisasikan dalam bentuk kerja real misal dalam bentuk penelitian, produk pertanian, maupun realisasi untuk MBKM bagi adik-adik mahasiswa kita,” katanya.
Ia berharap dengan kerja sama ini, tidak hanya sebatas seremonial saja, melainkan implementasi dan komitmen antar lembaga yang harus dibangun dengan baik, sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat khususnya sektor pertanian di Indonesia.
Sementara itu, Prof. Soetriono, Dekan FAPERTA UNEJ, menjelaskan, ada 300 orang peserta yang mengikuti konferensi ini baik dari perguruan tinggi negeri dan swasta yang berasal dari wilayah Indonesia bagian timur.
Masing-masing perguruan tinggi pertanian yang tergabung dalam FKPTPI sebenarnya sudah bekerja sama yaitu sebanyak 101 MoA.
“FAPERTA UNEJ juga baru saja menandatangani MoA dengan Universitas Nasional Kyungpook Korea Selatan yang berisi kerja sama pendidikan," kata Prof Soetriono.
Pihaknya akan mengirim mahasiswa UNEJ untuk studi S1 dan S2 ke Korea Selatan dan sekarang sudah ada yang studi S3 di sana.
Artikel Terkait
Tekan Angka Golput pada Pemilih Pemula, KPU Kota Mojokerto Gencar Sosialisasi Pilkada 2024 di Sekolah Menengah Atas
Partai Nasdem Serahkan Rekomendasi ke Suhardi Duka untuk Pilgub Sulawesi Barat 2024
Jokowi Akan Uji Coba Trem Otonom di IKN Senin Depan, Ini Rute Operasionalnya
Klarifikasi PT Akurat Sentra Media Usai Dikaitkan dengan Meita Irianty, Terduga Pelaku Penganiayaan Anak di Depok
Draft KUA PPAS APBD 2025 Belum Dikirim Pemkab Jember, DPRD Layangkan Surat Resmi
Akun IG dan TikTok Meita Irianty Hilang, Videonya Komentari Kasus Penganiayaan Anak Aghnia Punjabi Kembali Beredar
Pembahasan APBD Perubahan 2024 Bakal Molor, DPRD Jember Berikan Penjelasan