Fenomena ini kerap dikaitkan dengan angin puting beliung, karena terjangan udara yang berputar menyerupai tornado kecil dianggap merusak dan membuat warga panik.
Namun, berbeda dengan angin puting beliung, dust devil tidak berbahaya, tidak terkait dengan awan badai.
Angin puting beliung biasanya sering muncul karena ada keterkaitan dengan awan Cumulonimbus (Cb) yang dicirikan dengan cuaca mendung, gelap, dan menjulang tinggi.
Sementara dust devil biasanya muncul saat cuaca cerah dan terjadi akibat permukaan tanah yang sangat panas dan kering.
Dalam unggahannya, BMKG menjelaskan penyebab munculnya fenomena ini yang terjadi akibat pemanasan permukaan tanah yang ekstrem oleh sinar matahari, yang membuat udara tepat di atasnya memanas, memuai, dan naik dengan cepat.
Jika ada dorongan angin ringan, udara yang naik ini akan mulai berputar dan membentuk kolom vertikal. Fenomena ini kerap terjadi saat cuaca cerah, dengan julah tutupan awan yang sangat sedikit.
Dust devil sering terlihat di tempat terbuka dan kering seperti gurun, lapangan, sawah kering, atau kawasan berpasir. Fenomena ini terjadi terutama pada siang hingga sore hari saat suhu paling terik dengan kelembapan rendah dan permukaan tanah yang kering.
Umumnya, pusaran angin berukuran kecil hingga sedang dan terjadi dalam waktu singkat. Meskipun terkadang terlihat menakutkan seperti tornado mini, dust devil biasanya lemah dan tidak merusak, meski bisa menerbangkan debu dan membuat benda ringan berhamburan.
Kemunculan pusaran angin ini kerap menarik perhatian dan membuat panik warga. Dust Devil seperti yang terjadi belakangan ini di kawasan wisata Gunung Bromo juga pernah ditemui di kompleks Candi Arjuna, Dieng.
Fenomena ini juga bukan hal baru, sehingga aktivitas wisata di lokasi tersebut berjalan seperti biasa karena pusaran angin tersebut akan menghilang dalam waktu singkat, hanya terjadi dalam hitungan detik hingga 1-2 menit.
Meski tidak berbahaya, BMKG menyarankan agar pengunjung atau wisatawan tetap waspada dan berhati-hati. Jika mendadak muncul pusaran angin sebaiknya berhenti dan diam sejenak.
Masyarakat dihimbau melindungi mata dan saluran pernapasan dengan masker dan berusaha menghindar saat pusaran angin mendekat mengingat 'setan debu' membawa material pasir dan debu yang dampaknya mengganggu kesehatan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Musim Kemarau Ternyata Banjir? BMKG Ungkap Ancaman Cuaca Ekstrem hingga Akhir Tahun 2025
Suhu Panas hingga 37 Derajat Landa Sejumlah Wilayah di Indonesia, Ini Penyebabnya Kata BMKG: Pengaruh dari...
Badai Geomagnetik Kuat Kembali Menghantam Bumi, BMKG Jelaskan Penyebab hingga Dampaknya bagi Indonesia, Benarkah Jadi Pemicu Cuaca Ekstrem?
Heboh Fenomena Langit Merah Darah di Pandeglang Banten, Bikin Warga Resah hingga Dianggap Jadi Pertanda Datangnya Bencana, Begini Penjelasan BMKG
Viral Jam di Ponsel Warga Ternate Mundur Satu Jam, Berikut Penjelasan Resminya dari BMKG