Mahasiswa berusia 23 tahun itu kemudian menyinggung sejumlah temuan yang menurutnya menimbulkan tanda tanya besar terhadap validitas aliansi tersebut.
Mulai dari sosok yang disebut sebagai pengurus mahasiswa aktif ternyata telah berstatus alumni, hingga adanya klaim ketua organisasi mahasiswa dari kampus yang disebut tidak memiliki struktur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Tiyo pun menilai berbagai tudingan miring yang diarahkan padanya itu sebagai pengalihan isu untuk menggiring opini publik yang mencoreng nama baiknya.
"Ada yang sudah bukan mahasiswa tapi masih mengaku mahasiswa. Ada yang bukan ketua BEM tapi mengaku ketua BEM. Bahkan yang paling lucu ada kampus yang tidak memiliki BEM, tapi ada yang mengaku sebagai ketuanya," tandasnya.
"Organisasinya saja tidak ada, kok mengaku sebagai ketuanya. Ini harus menjadi catatan bagi pihak-pihak yang ingin melakukan penggiringan opini maupun fitnah," lanjutnya.
Sebelumnya, Tiyo juga sempat mengunggah konten di akun Instagram pribadinya yang membahas berbagai kejanggalan terkait Aliansi BEM Bersatu.
"Gerakan mahasiswa yang seharusnya murni lahir dari rahim kajian, data, dan keresahan masyarakat. Namun, apa jadinya jika sebuah aliansi muncul ke publik membawa narasi besar, tapi fondasi identitasnya justru dipenuhi klaim fiktif?" tulisnya dikutip SketsaNusantara.id dari unggahan akun Instagram @tiyoardianto_.
Dalam unggahan tersebut, ia menyoroti munculnya sejumlah klarifikasi dari organisasi mahasiswa yang namanya disebut dalam konferensi pers aliansi BEM Bersatu
Beberapa organisasi mahasiswa bahkan secara terbuka menyatakan tidak pernah mengirimkan perwakilan maupun memberikan mandat kepada pihak yang mengatasnamakan mereka.
"Konferensi pers Aliansi BEM Bersatu baru-baru ini memicu tanda tanya besar. Berniat mengkritik gerakan mahasiswa lain yang dituduh 'ditunggangi', aliansi ini justru tersandung blunder fatal mereka sendiri," ujarTiyo dalam caption unggahannya.
"Mulai dari pencatutan nama pengurus di UBSI dan UNJ yang langsung dibantah oleh pihak internal, hingga klaim paling tidak masuk akal: mencantumkan nama Ketua BEM FEB UNPAM, padahal kampus Universitas Pamulang secara struktural tidak pernah memiliki lembaga bernama BEM," sambungnya.
Fenomena tersebut sempat memicu perdebatan di kalangan mahasiswa dan ramai jadi perbincangan warganet di media sosial.
Publik pun mempertanyakan validitas representasi Aliansi BEM Bersatu yang menilai polemik tersebut berpotensi mengalihkan fokus dari substansi kritik mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah.
Artikel Terkait
Pertemuan Mahasiswa dan Gibran Berujung Polemik, Istana Bantah Ada Kesepakatan soal Tenggat Waktu Tuntutan
Megawati Heran Aksi Mahasiswa Dijaga TNI-Polri, Sebut Warga Tak Perlu Takut Menyampaikan Pendapat di Negara Demokrasi
Dari Pembekuan MBG hingga Subsidi UKT, Ini Deretan Tuntutan Mahasiswa yang Diterima Gibran dan Akan Dibawa ke Prabowo
Viral Intel Polisi Kepergok Masuk Kampus UMY, Polda DIY Akui Anggotanya Ditugaskan Pasca Aksi Mahasiswa di Titik Nol Yogyakarta, Begini Klarifikasinya
Heboh Pengakuan BEM UBK yang Bertemu Wapres Gibran Pasca Aksi Demo ke Istana Negara Ternyata Dibayar Polisi, Akui Terima Uang Suap hingga Rp20 juta!
Dugaan Pemberian Rp20 Juta Jadi Sorotan, Komisi III DPR Dorong Polri Bongkar Dugaan Intervensi Aksi Demonstrasi Mahasiswa Universitas Bung Karno