Sabtu, 6 Juni 2026

Wacana Baru MBG Berbasis Kantin Sekolah Ramai Dibahas, Disebut Mirip School Meal Jepang dan Bisa Kurangi Anggaran Negara

Photo Author
Zuhana Anibuddin Zuhro, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 6 Juni 2026 | 10:30 WIB
Ilustrasi menu MBG. (info.gptn.or.id)
Ilustrasi menu MBG. (info.gptn.or.id)

SketsaNusantara.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik. Kali ini, sorotan muncul setelah Badan Gizi Nasional (BGN) membuka peluang penggunaan kantin sekolah sebagai bagian dari skema distribusi makanan untuk para siswa.

Wacana tersebut memantik perbincangan karena dinilai berbeda dari pola distribusi yang selama ini mengandalkan dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Selain itu, gagasan baru tersebut muncul setelah terjadi pergantian kepemimpinan di tubuh BGN.

Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menjelaskan bahwa pihaknya sedang menyiapkan sejumlah alternatif untuk mendukung pelaksanaan program MBG.

Baca Juga: 5 Gebrakan Nanik S. Deyang Usai Diangkat Jadi Kepala BGN: Fokus MBG untuk Daerah Terpencil, Manfaatkan Kantin Sekolah hingga Moratorium Dapur Baru

Salah satu fokus yang sedang dipertimbangkan adalah pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia, termasuk kantin sekolah.

Menurut Nanik, langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran negara.

Pemerintah disebut tidak ingin seluruh kebutuhan distribusi makanan selalu bergantung pada pembangunan dapur baru.

Baca Juga: Ni Luh Djelantik Tegas Minta MBG Dihentikan Usai Kasus Korupsi BGN Terungkap, Desak Pemerintah Perhatikan Kesejahteraan Guru dan Hukum Mati Koruptor

"Jadi ada beberapa alternatif, intinya untuk mengurangi beban anggaran APBN," kata Nanik dalam jumpa pers di Kantor BGN, Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.

Dalam penjelasannya, Nanik menyampaikan bahwa fasilitas yang telah tersedia di lingkungan sekolah dapat menjadi salah satu opsi yang dimanfaatkan. Dengan cara tersebut, proses distribusi makanan dinilai berpotensi lebih sederhana tanpa harus menambah banyak infrastruktur baru.

Ia juga menjelaskan bahwa pemanfaatan kantin sekolah menjadi salah satu alternatif yang sedang dipelajari. Pendekatan tersebut disebut tetap diarahkan untuk menjaga kualitas layanan serta sasaran program MBG.

Wacana MBG berbasis kantin sekolah sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Gagasan serupa pernah mencuat ketika program MBG menjadi perhatian publik akibat sejumlah kasus keracunan makanan yang terjadi pada 2025 lalu.

Dalam berbagai pembahasan saat itu, sejumlah pihak mengusulkan agar sekolah diberikan peran lebih besar dalam proses distribusi makanan kepada siswa. Salah satu yang pernah menyampaikan pandangan tersebut adalah Ketua Badan Anggaran DPR, Said Abdullah.

Said menilai konsep pelibatan kantin sekolah telah diterapkan di sejumlah negara. Ia mencontohkan negara seperti China dan Jepang yang memiliki pengalaman dalam penyelenggaraan program makanan sekolah.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X