SketsaNusantara.id - Ribuan jemaah memadati kegiatan Haul Sultan Maulana Yusuf ke-460H/446M di Banten pada Minggu, 10 Mei 2026. Acara berlangsung khidmat dengan dihadiri tokoh agama, budayawan, santri, hingga unsur pemerintahan dari berbagai daerah.
Kegiatan tersebut menjadi perhatian masyarakat karena menghadirkan perpaduan agenda religi, budaya, dan sosial dalam satu rangkaian acara besar. Suasana semakin semarak ketika kirab budaya dan iring-iringan Kiswah melintasi area kegiatan bersama komunitas budaya dan masyarakat.
Tema besar yang diangkat tahun ini ialah “Sultan Maulana Yusuf: Sang Pewaris Cahaya Banten, Artefak Kejayaan, Perekonomian, dan Kemaritiman Dunia”. Tema tersebut mengangkat kembali sejarah Kesultanan Banten sebagai pusat perdagangan dan peradaban Islam di Nusantara.
Baca Juga: Haul ke 136, Mantan Ketua PWNU Jatim Ajak Jaga Spirit Perjuangan dan Keteladanan KH Asy'ari
Rangkaian acara diawali dengan kirab budaya yang diikuti pegiat sejarah, santri, dan komunitas budaya dari berbagai wilayah di Provinsi Banten. Peserta menampilkan pakaian adat, simbol Kesultanan Banten, serta kesenian tradisional yang menggambarkan identitas budaya masyarakat setempat.
Suasana religius juga terasa melalui pelaksanaan Istigosah Kubro dan ceramah agama yang diikuti ribuan jemaah. Ceramah disampaikan Prof. KH. Syukron Ma’mun dan KH. Miftah Fauji di hadapan masyarakat yang memenuhi lokasi acara.
Dalam ceramahnya, para ulama mengingatkan pentingnya meneladani kepemimpinan Sultan Maulana Yusuf dalam membangun peradaban. “Sultan Maulana Yusuf: Sang Pewaris Cahaya Banten, Artefak Kejayaan, Perekonomian, dan Kemaritiman Dunia,” menjadi tema yang terus digaungkan sepanjang kegiatan berlangsung.
Jemaah yang hadir berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari alim ulama, kyai, akademisi, tokoh masyarakat, hingga aparatur pemerintahan turut mengikuti kegiatan haul tersebut.
Kehadiran berbagai unsur masyarakat memperlihatkan kuatnya hubungan sejarah dan spiritual masyarakat Banten terhadap warisan Kesultanan Banten. Momentum haul juga dimanfaatkan sebagai sarana mempererat kebersamaan antarwarga dan komunitas budaya.
Selain agenda keagamaan, panitia turut menggelar kegiatan sosial berupa khitanan massal. Sebanyak 60 anak dari berbagai daerah mengikuti kegiatan tersebut sejak Minggu pagi.
Program sosial itu menjadi bagian dari semangat berbagi kepada masyarakat. Kegiatan tersebut juga disebut sebagai implementasi nilai kebersamaan yang diwariskan para ulama dan sultan Banten.
Acara semakin meriah saat pertunjukan Debus ditampilkan di hadapan masyarakat. Atraksi budaya khas Banten itu mendapat perhatian besar dari jemaah dan pengunjung yang hadir di lokasi kegiatan.
Debus tidak hanya dianggap sebagai hiburan tradisional. Pertunjukan tersebut juga memuat unsur sejarah, spiritualitas, dan ketangguhan budaya masyarakat Banten yang terus dijaga hingga sekarang.
Artikel Terkait
Gus Yahya Ungkap Warisan Berharga KH Ali Maksum: Haul ke-36 Mengenang Sosok Guru NU Legendaris
Mulai dari Hinaan Gus Miftah Soal Tukang Es Teh Keliling hingga Fufufafa, Inayah Wahid Lancarkan Roasting Tajam pada Acara Haul Gus Dur ke 15
Haul Pendiri Ponpes Falahul Muhibbin, Santuni Yatim dan Khitan Massal Gratis
Ada Penutupan Jalan Saat Acara Haul Habib Sholeh 2025, Ini Jalur Alternatif yang Bisa Digunakan dari Jember ke Surabaya atau Lumajang dan Sebaliknya
Viral Kereta Api Melintas saat Haul ke-49 Habib Sholeh Tanggul Jember, Bahaya Sekaligus Hiburan bagi Para Jamaah